||_____Budaya_____||_____Tentang Si Lae_____||_____Laptop Si Sanop_____||_____Foto²_____||

Sedikit Tentang Budaya Simalungun

Budaya Simalungun

Riwayat asal mula kerajaan Simalungun hingga kini belum diketahui pasti, terutama tentang kerajaan pertama yakni Nagur (Nagore, Nakureh). Demikian pula kerajaan Batanghiou serta Tanjung Kasau. Kehidupan kerajaan ini hanya dapat ditelusuri dari tulisan-tulisan petualang dunia terutama Marcopolo dan petualang dari Tiongkok ataupun dari hikayat-hikayat (poestaha partikkian) yang meriwayatkan kerajaan tersebut. Di zaman purba wilayah Simalungun mempunyai

2 buah kerajaan besar yaitu pertama kerajaan Nagur yang ada di dalam catatan Tiongkok abad ke-15 (“Nakuerh”) dan oleh Marcopolo tatkala ia singgah di Pasai tahun 1292 M. kerajaan besar itu menguasai wilayah sampai-sampai ke Hulu Padang-Bedagai dan Hulu Asahan. Kerajaan tua yang lain ialah Batangio yang terletak di Tanah Jawauri (Tanoh Jawa). Pada masa itu, kerajaan Simalungun dikenal dengan nama harajaon na dua (kerajaan yang Dua)Selanjutnya, diketahui bahwa pasca keruntuhan kerajaan Nagur, maka terbentuklah harajaon na opat (kerajaan Berempat) yaitu: Siantar, Tanoh Jawa, Panai dan Dolog Silau. Ke-empat kerajaan ini menjadi populer pada saat masuknya pengusaha kolonial Belanda, dimana tiga kerajaan yakni Tanoh Jawa, Siantar dan Panei bekerjasama dengan pengusaha kolonial dalam memperoleh perijinan tanah. Setelah masuknya Belanda terutama sejak penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) maka tiga (3) daerah takluk (partuanan) Dolog Silau di naikkan statusnya menjadi kerajaan yang sah dan berdiri sendiri, yakni Silimakuta, Purba dan Raya. Pada saat itu, kerajaan di Simalungun dikenal dengan nama harajaon na pitu (kerajaan yang Tujuh).

Simalungun Sumatera Timur.Akhir dari kerajaan Simalungun ini adalah terjadinya amarah massa pada tahun 1946 yang dikenal dengan revolusi Sosial. Sejak saat itu, peradapan rumah bolon (kerajaan) Simalungun punah selama-lamanya. Dengan uraian singkat diatas, penulis berkeinginan untuk menulis kembali sejarah berdiri dan hanucrnya kerajaan.Atas dasar inilah, penulis berkeinginan untuk mendeskripsikan kembali sejarah bangun dan hancurnya kerajaan Simalungun Sumatera Timur yang banyak diriwayatkan dalam sejarah Simalungun.

Tiga fase Kerajaan Simalungun.

Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang).Seperti yang dikemukakan diatas bahwa asal muasal kerajaan Simalungun tidak diketahui secara pasti terutama dua kerajaan terdahulu yakni Nagur dan Batanghiou. Sinar (1981) mengemukakan bahwa kerajaan Nagur telah ada dalam catatan Tiongkok abad ke-15 (“Nakuerh”) dan oleh Marcopolo tatkala ia singgah di Pasai tahun 1292 M. Kerajaan besar itu menguasai wilayah sampai ke Hulu Padang-Bedagai dan Hulu Asahan.

Kerajaan tua yang lain ialah Batangio yang terletak di Tanah Jawauri (Tanoh Jawa). Kendati konsepsi raja dan kerajaan di Simalungun masih kabur, akan tetapi, Kroesen (1904:508) mengemukakan bahwa konsep raja dan kerajaan itu berasal dari orang Simalungun itu sendiri sebagai perwujudan otonomi kekuasaan yang lebih tinggi. Bangun dalam Saragih (2000:310) mengemukakan bahwa kata ‘raja’ berasal dari India yaitu ‘raj’ yang menggambarkan pengkultusan individu penguasa. Mungkin saja konsep itu terbawa ke Simalungun akibat penetrasi kerajaan Hindu-Jawa seperti Mataram lama pada masa ekspansi ke Sumatera Timur (Tideman,1922:58). Lebih lanjut dikemukakan bahwa pengaruh Hindu di Simalungun dapat diamati langsung dari bentuk peninggalan yang mencerminkan pengaruh Hindu-Jawa. Nama kerajaan Tanoh Djawa setidaknya telah mendukung argumentasi itu Menurut sumber Cina yakni Ying-yai Sheng-ian, pada tahun 1416

kerajaan Nagur (tertulis nakkur) berpusat di Piddie dekat pantai barat Aceh Dikisahkan bahwa raja nagur berperang dengan raja samudra (Pasai) yang menyebabkan gugurnya raja Samodra akibat panah beracun pasukan Nagur. Pemaisuri kerajaan Samodra menuntut balas dan setelah diadakannya sayembara, maka raja Nagur berhasil ditewaskan. Kendati demikian, sejarawan Simalungun sepakat bahwa lokasi ataupun pematang kerajaan Nagur adalah di Pematang Kerasaan sekarang yang berada dekat kota Perdagangan terbukti dengan adanya konstruksi tua bekas kerajaan Nagur dari ekskavasi yang dilakukan oleh para ahli (Tideman, 1922:51). Mengenai polemik tentang lokasi defenitif kerajaan Nagur pernah berada dekat Pidie (Aceh) dapat dijelaskan sebagai akibat luasnya kerajaan Nagur. Oleh karenanya, raja Nagur menempatkan artileri panah beracunnya pada setiap perbatasan yang rentan dengan invasi asing.

Kerajaan Batanghio, tidak ditemukan tulisan-tulisan resmi tentang riwatnya maupun pustaha yang mengisahkan asal-usulnya. Hanya saja Tideman (1922) menulis dalam nota laporan penjelasan mengenai Simalungun. Oleh para cerdik pandai Simalungun, Batanghio pada awalnya dipercaya sebagai partuanon Nagur, akan tetapi karena kemampuannya dan karena luasnya kerajaan Nagur, maka status partuanon itu diangkat menjadi kerajaan. Pada tahun 1293-1295, kerajaan Nagur dan Batanghio diinvasi kerajaan Singasari dengan rajanya yang terkenal, Kertanegara. Ekspedisi itu dikenal dengan ekspedisi Pamalayu yang dipimpin oleh Panglima Indrawarman yang berasal dari Damasraya Djambi (Wibawa, 2001:14-15) yang kemudian mendirikan Kerajaan (Dolog) Silou pada akhir abad XIV. Untuk mempertahankan, daerah vasalnya, maka raja nagur menyerahkan kekuasaannya kepada para panglima dan mempererat hubungan dengan pematang (central kekuasaan) semakin erat dan kokoh.

Dengan demikian di Simalungun sampai pada tahun 1883 terdapat kerajaan yang sifatnya konfederasi (Dasuha dan Sinaga, 2003:31) yakni kerajaan Siantar (Damanik), Panei (Purba Dasuha), Dolog Silau (Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (Sinaga). Wilayah Dolog Silau yang begitu luas dan intensya pertikaian antar huta, maka dibentuklah tiga partuanon, yakni Partuanon Raya (Saragih Garinging), Partuanon Purba (Purba Pakpak) dan Partuanon Silimahuta (Purba Girsang). Strategi ini ditempuh untuk mempererat kekuasaan Dolog Silau dan tiga kerajaan besar lainnya.

Setelah penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) pada tahun 1907 yang intinya tunduknya seluruhnya kerajaan kepada kolonial, maka untuk mempermudah urusan administrasi serta mempermuda politik devide et impera, maka status partuanon dari tiga partuanon Dolog Silou itu dinaikkan statusnya menjadi kerajaan. Yakni kerajaan Silimahuta (Purba Girsang) yang Pematang nya di Pematang Nagaribu, kerajaan Purba (Purba Pak-pak) dengan pematang di Pematang Raya. Dengan demikian setelah penandatanganan Korte Verklaring, Simalungun mengenal tujuh kerajaan yang bersifat konfederasi, yakni dikenal dengan sebutan Kerajaan nan tujuh (harajaon Na pitu-siebenvorsten) (Tambak,1982:20-128; Tideman,1922:3-11). Pasca penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) itu, maka oleh pemerintah kolonila Belanda, penguasa pribumi (native states) ditugaskan untuk mengurus daerahnya sendirinya sebagai penguasa swapraja. Sebagai penguasa daerah yang otonom mereka memiliki status sebagai kepala pemerintahan daerah
.Dalam poestaha hikayat Parpadanan na Bolak dapat diketemukan bahwa asal usul monarhi (kerajaan) di Simalungun telah bersentuhan dengan kerajaan yang ada di Pulau Jawa pada saat itu. Keadaan ini juga dipertegas dengan berbagai asumsi penulis Eropa, bahwa pengaruh Jawa telah ada dan berkembang di kawasan ini terbukti dengan penamaan salah satu area (Tanah Djawa) di Simalungun. Lagi pula, terdapat berbagai kesamaan dalam hal perangkat kebudayaan seperti pemakaian destar (gotong dan Bulang) dalam khasanah adat. Di samping itu, juga telah bersentuhan dengan pengaruh Sinkretis (Hindu-Jawa) seperti permainan catur, meluku sawah dan lain-lain. Hal yang paling mengesankan adalah bahwa hewan korban dalam perangkat adat istiadatnya adalah ayam (dayok nabinatur).Ini berarti bahwa, keadaan dimana kerajaan di Simalungun telah mengambil corak modern layaknya sebuah negara yang memiliki perangkat-perangkat tertentu. Keadaan seperti ini tidak dimiliki suku lain seperti Tapanuli (Utara), Karo, Pak-pak, Mandailing, Angkola sungguhpun mereka itu mengenal konsep raja. Dengan demikian, konsep raja dan kerajaan yang telah lama berdiri di Simalungun merupakan peninggalan dalam kebudayaannya sebagai dampak persentuhannya dengan budaya lain (Hindu-Jawa)

Runtuhnya Kerajaan Simalungun Sumatera Timur.

Kekhasan Sumatera Timur menjelang Indonesia merdeka tahun 1945 adalah adanya perbedaan-perbedaan kelas antara bangsawan dan rakyat jelata. Dalam masyarakat Simalungun, perbedaan kelas tersebut adalah seperti golongan parbapaan (bangsawan), partongah (pedagang), paruma (petani) dan jabolon (budak). Keadaan yang sama ada pada rakyat Melayu Sumatera Timur terutama antara Sulthan dan rakyat.Sebagai negera yang bari terbentuk, nasionalisme rakyat Indonesia masih mengental dan dapat dipahami apabila masih menaruh dendam terhadap feodalisme yang sebelumnya merupakan kaki tangan kolonial. Oleh karena itu, situasi rakyat yang masih baru merdeka, kemudian disulut dengan provokasi orang lain (organisasi) tak pelak lagi apabila kecemburuan sosial dapat berujuk revolusi massa yang menelan ongkos sosial yang tinggi. Termasuk punahnya sebuah peradapan di Sumatera Timur (Simalungun dan Melayu), dimana raja dan kerabatnya beserta istananya musnah selama-lamanya

Keadaan seperti ini berlanjut hingga memasuki tahun 1946 sehingga mendorong kebencian masyarakat terhadap golongan elit. Sejalan dengan itu, berkembangnya pemahaman politik pada waktu itu, turut pula menyulut keprihatinan terhadap perbedaan kelas yang didorong oleh keinginan untuk menghapuskan sistem feodalisme di Sumatera Timur.Demikianlah hingga akhirnya terjadi peristiwa berdarah yang meluluhlantakkan feodalisme di Sumatera Timur terutama pada rakyat Simalungun dan Melayu. Pada peristiwa tersebut empat dari tujuh kerajaan Simalungun yaitu Tanoh Jawa, Panai, Raya dan Silimakuta pada periode ketiga ini musnah dibakar. Sementara Silau, Purba dan Siantar luput dari serangan kebringasan massa. Raja dan kerabatnya banyak dibunuh. Peristiwa ini menelan banyak korban nyawa, harta dan benda. Kejadian yang sama juga menimpa kesultanan Melayu dimana empat kesultanan besarnya Langkat, Deli, Serdang serta Asahan dibakar dan lebih dari 90 sultan dan kerabatnya tewas dibunuh (Reid, 1980)Riwayat swapraja

Simalungun telah berlalu setelah terjadinya revolusi sosial pada tahun 1946. Revolusi itu tidak saja menamatkan kerajaan tapi juga seluruh kerabat perangkat kerajaan dan keluraga raja yang mendapatkan hak istimewa dari pemerintah kolonial, sehingga telah meningkatkan kecemburuan sosial dari rakyat terhadap raja. Revolusi terjadi setelah rakyat diorganisir dan diagitasi oleh organisasi dan partai revolusioner di Simalungun. Sejak saat itu sistem kerajaan tradisional Simalungun menemui riwayatnya. Dalam arti lain, lenyapnya atau runtuhnya zaman keemasan monarhi itu telah pula menandai berakhirnya peradapan besar rumah bolon.

Marga-Marga di Simalungun
Simalungun mengenal 4 marga (morga) yang kerap disebut dengan morga sioppat, yaitu Sinaga, Purba, Saragih, dan Damanik atau disingkat dengan SIPASADA. Hubungan kekeluargaan, asal, dan silsilah (tarombou) dari keempat marga ini belum dapat ditentukan secara ilmiah, namun yang pasti mereka ini saling bersanina, bertondong, dan beranak boru dalam bingkai Tolu Sahundulan Lima Saodoran dengan berfalsafah hidup pada Habonaron Do Bona.

Marga Sinaga mengenal beberapa cabang marga dengan kategori berikut:

1. Cabang asli Simalungun, yaitu Dadihoyong, Porti, Simaibang, dan Simanjorang

2. Cabang dari Toba, yaitu Bonor (Pande, Suhut ni Huta atau Sidasuhut), Uruk, Oppu Ratus. Lalu ada beberapa marga lain yang dahulu pada masa eksisnya kerajaan-kerajaan Simalungun berafiliasi dengan marga Sinaga, di antaranya seperti Sipayung, Silalahi, Sihaloho, Sitorus, Sirait, Butar-Butar, Manurung, Sinurat, dan lain-lain.

Marga Purba mengenal beberapa cabang, yaitu:

1. Cabang asli Simalungun meliputi Tambak, Sidasuha, Sidadolog, Sidagambir, Siborou, Sigumonrong, Silangit, Sihala, Tua, Tanjung, Tondang, Tambun Saribu, dll

2. Cabang dari Pakpak, yaitu Pakpak (dari Tungtung Batu) dan Girsang (Lehu).

3. Cabang dari Toba yaitu Manorsa, cabang marga ini hanya dijumpai di daerah Haranggaol. Sementara itu, untuk marga Purba Toba yang banyak bermukim di daerah Dolok Sanggul juga mengenal beberapa cabang, seperti Sigulang Batu, Parhorbo, dan Pantom Hobon.

Kaitan antara marga Purba Simalungun dengan Purba Toba ini, penulis berpendapat keduanya berasal dari satu keturunan, namun saya belum mampu menguraikan siapa yang lebih dulu ada di antara keduanya. Purba yang dikaitkan dengan Simamora, Manalu, Debataraja, Rambe, dan Lumban batu, penulis berpendapat mereka tidak ada hubungan satu sama lain.

Sebagaimana halnya marga di atas, marga Saragih juga mengenal cabang-cabang dengan kategori berikut:

1. Cabang asli Simalungun, yaitu Sumbayak, Garingging, Sidasalak, Sidajawak.

2. Cabang dari Toba, yaitu Turnip, Siadari, Sijabat, Sidauruk, Simanihuruk, Sinapitu, Siallagan, Sitio, Sidabutar, Sidabalog, Simarmata, Sitanggang, Ruma Horbo (di Simalungun membentuk cabang baru yaitu Simaronggang) , Tamba, dan Sidabaho (Naibaho), dll.

3. Cabang dari Karo, yaitu Munte.

4. Lalu beberapa cabang yang belum diketahui secara pasti keberadaannya apakah sebagai cabang asli atau pendatang seperti Sidamuntei, Parmata, Sidapulou, dan Simatondang.

Demikian juga marga Damanik mengenal beberapa cabang, yaitu:

1. Cabang asli Simalungun, yaitu Rappogos, Malayu (asal marga Malau), Barotbot, Usang, Bayu, Sola, Sarasan, Rih, Hajangan, Simaringga, dll.

2. Cabang dari Toba, yaitu: Manik (Raja), Malau, Gurning, Tomog, Ambarita (Bariba), Limbong, Sagala, dll.

Suku Simalungun asli adalah keturunan marga Sisadapur + Sipayung. Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba serta Sipayung. Simalungun itu mirip dengan Karo. Karo memiliki 5 marga, demikian pula Simalungun. Marga di Simalungun itu identik dengan marga raja (harajaan). Marga Purba adalah marga raja (dinasti) di bekas Kerajaa n Panei, Dolog Silou dan Silimakuta (Nagasaribu); marga Saragih raja di Kerajaan Raya dan onggou Sipoldas (Saragih Sidabuhit),

Sinaga marga Raja Batangiou dan Tanoh Jawa, Damanik marga raja Nagur dan Siantar. Terakhir Sipayung adalah Harajaan (Dewan Kerajaan) di Kerajaan Dolog Silou (Anakboru Dolog). Dan marga raja Simalungun itu dari penelitian saya (baik wawancara langsung dengan keturunan raja-raja Simalungun dan penelusuran arsip dan blog di internet ini) membantah asalnya adalah dari orang Toba-Samosir. Alasan yang sangat meyakinkan adalah bahwa di Toba

sampai hari ini tidak dikenal yang namanya “kingdom” atau negara. Dan ini sudah diakui tuntas oleh Dr. L. Castles dari Ohio University, Batak Toba itu “stateless”, sedangkan Simalungun itu mengenal tradisi bernegara yang diakui oleh Prof. Dr. W. Liddle dari AS. Kemudian di Simalungun ada fungsionaris Harajaana yang terapilkasi dalam adat Simalungun sampai sekarang, yaitu Anak Bor Jabu dan Anak Boru Mintori, status adat yang tidak ada di Dalihan Natolu Batak Toba dan Mandailing, hanya ada di Suku Karo dan Simalungun.

Ini membuktikan kemungkinan yang seketurunan adalah suku Karo dan Simalungun dari bekas Kerajaan Nagur dan Aru. Seandainya suku Simalungun itu dari Toba, maka Simalungun sekarang tidak ada bedanya dengan daerah Balige atau Humbang Hasundutan sekarang yang mirip (similar) secara adat, budaya, bahasa dan sejarah. Ini tidak! Jadi, dengan tidak mengesampingkan

ada “tokoh Simalungun” yang tidak jelas identitasnya yang malu jadi orang Simalungun sehingga perlu menjadi Ketua di Perkumpulan Marga Toba, saya sebagai seorang keturunan raja Panei menyatakan tegas: Suku Simalungun itu adalah suku asli Sumatera Timur yang pernah karena serangan Singosari dan Majapahit serta Aceh dan terakhir Revolusi Sosial pergi dan pindah ke daerah di Toba, Karo dan Pakpak, dan malu mengaku dirinya orang Simalungun, karena dicap feodal.
Nilai-Nilai Luhur dalam Ajaran Habonaron Do Bona 
Salah satu kepercayaan asli yang masih mempunyai masyarakat pendukung di daerah Sumatera diantaranya adalah kepercayaan Habonaron Do Dona. Pendukung ajaran Habonaron Do Bona pada umumnya adalah masyarakat Simalungun yang juga dikenal dengan Halak Timur. Masyarakat Simalungun merupakan salah satu dari enam subsuku bangsa Batak yang secara geografis mendiami daerah induk Simalungun. Ajaran Habonaron Do Bona bersatu padu dengan adat budaya Simalungun atau Adat Timur, sebagai tata tuntunan laku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dalam menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

Nilai-nilai luhur dalam kepercayaan Habonaron Do Bona terkandung dalam ajarannya, seperti ajaran tentang: Ketuhanan, manusia, alam serta ajaran-ajaran yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesamanya dan alam semesta. Di bawah ini secara singkat ajaran-ajaran dari kepercayaan Habonaron Do Bona.

Ajaran tentang Tuhan, Manusia dan Alam
Menurut kepercayaan Habonaron Do Bona, Tuhan Yang Maha Esa adalah awal dari segala sesuatu yang ada. Tuhan Yang Maha Esa disebut sebagai Naibata. Naibata adalah satu (sada) dan Maha Kuasa (Namar Kuasa/Namar Huasa). Karena Naibata adalah awal dari segala sesuatu yang ada, maka dunia beserta seluruh isinya adalah ciptaan-Nya. Sebagai Sang Pencipta, Naibata juga menjadi pembimbing, pemelihara dan penyelamat bagi semua makhluk ciptaan-Nya. Masyarakat pendukung kepercayaan Habonaron Do Bona menghormati leluhur yang disebut Simagot, Begu Jabu, Tua-Tua atau Bitara Guru. Menurut Habonaron Do Bona, leluhur adalah penghubung untuk menyampaikan titah Tuhan Yang Maha Esa kepada orang-orang tertentu yang berlangsung secara manunggal terhadap keturunan yang disukainya.

Sehubungan dengan hal tersebut maka kekuasaan Tuhan adalah tidak ada batasnya dan Tuhan bisa melimpahkan sebagian kekuasaan-Nya kepada orang-orang suci yang bersih lahir dan batinnya, kepada roh leluhur dan kepada keramat-keramat. Karena kekuasaan-Nya itu pula, maka banyak sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa, seperti: Namar Huasa (Tuhan Yang Maha Kuasa), Namam Botoh atau Ne Pentar (Tuhan Yang Tau), Pernolong (Tuhan Maha Pengasih), Pangarak-arak (Tuhan Maha Penuntun), Bona Habonaron (Tuhan Sumber Kebenaran) dan masih banyak sebutan lainnya.

Kemudian ajaran Habonaron Do Bona tentang manusia mengatakan bahwa manusia adalah diciptakan oleh Tuhan yang terdiri dari laki-laki (dalahi) dan perempuan (daboru/naboru). Sejak diciptakan, manusia telah dilengkapi dengan roh. Perkembangan manusia selanjutnya adalah karena di samping kehendak manusia itu sendiri juga atas sabda Tuhan. Kematian yang dialami oleh manusia terjadi ketika roh berpisah dengan badan selamanya. Roh kemudian hidup kekal di suatu alam kehidupan bersama Tuhan Yang Maha Esa. Roh manusia yang masih hidup disebut sebagai tondi, sedangkan manusia yang sudah mati rohnya disebut sumagot.

Selanjutnya ajaran Habonaron Do Bona tentang alam mengatakan bahwa alam adalah ciptaan Tuhan. Alam memiliki kekuatan-kekuatan. Dalam alam ini penuh dengan kekuatan-kekuatan gaib, yaitu kekuatan yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa maupun dari arwah leluhur. Bencana Banjir (halonglongan), gampa bumi (sohul-sohul), angin ribut (aliogo doras), petir (porhas), kegagalan panen, wabah penyakit dan bahkan tidak mendapat keturunan pun adalah merupakan perwujudan dari kekuatan gaib Tuhan dan leluhur, yang diperkenakan kepada alam dan manusia.

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi, mempunyai tugas dan kewajibannya, baik terhadap Tuhan, sesama maupun terhadap alam sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

Tugas dan Kewajiban Manusia
Sebagai konsekuensi bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan, maka manusia mempunyai kewajiban dalam hidup di dunia ini baik tugas dan kewajiban terhadap Tuhan, sesamanya maupun terhadap alam. Demikian ajaran Habonaron Do Bona.

Terhadap Tuhan Yang Maha Esa warga Habonaron Do Bona wajib untuk selalu ingat kepada-Nya dan setiap hari menyembah kepada-Nya. Pada bulan besar (bittang baggal) wajib melaksanakan penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kepada leluhur. Di samping itu ajaran Habonaron Do Bona juga mewajibkan untuk menghormati dan menjiarahi makam leluhur (manembah Suamgot dan mengurus pandawanan na hanlobei).

Upacara menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak terpisahkan dengan upacara-upacara ritual adat. Warga Habonaron Do Bona mengenal bermacam-macam upacara seperti:

1. Upacara dauh hidup.

2. Upacara membongkar tulang belulang.

3. Upacara pesta tuan (Robu-robu/Harja Tuan), yaitu upacara berdoa kepada Tuhan dan kepada leluhur untuk memulai suatu usaha seperti kegiatan pertanian/bercocok tanam padi, agar memperoleh hasil yang memuaskan.

4. Upacara memasuki rumah baru.

5. Upacara menghormati roh leluhur pelindung desa (mambere tambunan/pagar parsakutuan).

6. Upacara menghormati roh suci penjaga desa.

7. Upacara menghormati keramat pelindung (mambere simumbah).

Di samping mempunyai tugas dan kewajiban terhadap Tuhan, manusia juga memiliki tugas dan kewajiban terhadap dirinya sendiri, seperti: jujur terhadap diri sendiri, harus ahu malu dan harus tahu diri.

Tugas dan kewajiban manusia terhadap sesamanya menurut ajaran Habonaron Do Bona ada dalam bentuk perintah-perintah dan larangan-larangan. Apabila perintah dan larangan tersebut dipatuhi dapat menjadikan ketenteraman dalam masyarakat. Perintah-perintah dan larangan tersebut, antara lain adalah sebagai berikut:

1. Menghormati orang tua dan orang lain sesuai dengan tata krama tutur (hamat hubani urang tua oppa hasoman marihutkon turur).

2. Menghormati guru (hormat hubani guru/hormat hubani sibere ajar).

3. Membantu orang lain (manappati).

4. Tidak boleh membunuh sesama manusia, termasuk mengugurkan kandungan.

5. Tidak boleh kimpoi semarga (ulang marboto-boto).

6. Tidak boleh membuat orang lain meneteskan air mata sampai “berwarna kuning” (ulang iaben manetek iluhni halak magorsing).

7. Tidak boleh meminta-minta (ulang tedek-tedek).

8. Tidak boleh menyusahkan orang lain (ulang manusahi).

9. Tidak boleh berbohong (ulang marguak).

10. Tidak boleh memaki orang lain (ulang manurai).

11. Tidak boleh membungakan uang (ulang makhilang).

12. Tidak boleh menipu dan mengkhianatai orang lain (ulang magoto otoi/ulang mangkhianat).

Tugas dan kewajiban manusia terhadap dan menurut ajaran Habonaron Do Bona ialah bahwa manusia tidak boleh membunuh tumbuhan dan hewan liar secara sembarangan karena perbuatan ini dapat merusak alam (ulang massedai). Alam harus dijaga kelestariannya karena alam memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia.

Rasa syukur dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berhubungan dengan alam, misalnya dalam berbagai upacara yang dilakukan dalam kegiatan pertanian, dimaksudkan agar alam bersahabat dengan manusia dan memberikan hasil yang memuaskan. Upacara-upacara tersebut diantaranya adalah robu buang boro (mendoakan agar padi jangan diserang hama), membere eme (mendoakan saat padi sedang bunting), memutik (mendoakan saat padi sudah menguning), menutup panjang (mendoakan saat padi sudah terkumpul pada suatu tempat) dan menutup hobon (mendoakan rasa syukur karena seluruh hasil panen telah terkumpul).

Demikian uraian singkat ajaran Habonaron Do Bona, yang merupakan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Ajaran Habonaron Do Bona merupakan nilai-nilai yang mampu membentuk pribadi manusia sehingga menjadi insan yang berbudi luhur.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1993. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 
Sistem Kekerabatan 
Banyak ragam Partuturan ni Halak Simalungun. Dari berbagai ragam partuturan yang jamak adanya, pengaruh etnis lain yang letaknya berbatasan dengan wilayah Simalungun, terasa sulit dielakkan.

Setuju ataupun tidak, nyatanya Batak Toba cukup berhasil mewarnai pemakaian kosa kata di Sumatera Utara. Entah karena kemampuan adaptasi masyarakat Simalungun, mungkin karena malu, ketidak tahuan, atau malah tidak mau tahu, banyak masyarakat Simalungun lebih familiar menggunakan kosa kata Batak Toba ketimbang menggunakan kosa kata Simalungun yang lebih santun.

Kata Hiou untuk menyebut kain adat Simalungun, nyatanya lebih sering digunakan kata Ulos. Bahkan tidak sedikit partuturan Batak Toba dipergunakan dikalangan Halak Simalungun. Anehnya, Kaum tualah yang mengajarkan perusakkan ini kepada generasi muda Simalungun. Jika tidak segera disikapi, saya berkeyakinan, tutur kekerabatan Simalungun akan tinggal dalam tulisan-tulisan saja.

Beragam Tutur Kekerabatan

Masyarakat Simalungun dibeberapa tempat di kecamatan Sipispis Kabupatn Serdang Bedagai, misalnya, mengenal beberapa ragam partuturan tersendiri. Tutur “Uppun”dipergunakan setara dengan tutur “Tulang”, “Ambei” sebagai pengganti tutur “Anturang”. Bahkan ada beberapa tutur lain yang mungkin saja dipengaruhi oleh resam Melayu, seperti “Atoq” (Ompung), “Ussu/Pakcik” (Bapa Anggi), “Ocik” (Inang Anggi) atau “Bundei” (Ambou).

Di wilayah bekas kerajaan Padang di Tebingtinggi. Turunan Raja Padang yang bermarga Saragih Dasalah serta turunan Datuk Bandar Kajum yang bermarga Damanik, sama sekali memakai tutur kekerabatan berdasarkan puak Melayu. Tutur Atok, Nenek atau Andong, Ayah, Abah, Akak, Ulong, Angah, Uncu, Pakcik, Makcik, Uwak dan sebagainya.

Jika Puak Melayu, misalnya, tutur Tengku Ayah untuk kalangan bangsawan, acapkali diucapkan dengan kata “Entu” (Ayahanda), sebutan Ibunda/Bunda/Bunde menjadi “Ende”, Emak Kecik menjadi “Makcik/Ocik”, Bapak Kecik menjadi “Pakcik”; diSimalungun bentuk ini juga ada.

Orang Simalungun juga biasa mengucapkan untuk tutur Mangkela menjadi “Kela”, Anturang menjadi “Turang”, Bapa Gian menjadi “Pagian/Kian” dan lain sebagainya. Dikalangan Bangsawan Sidamanik, merasa lebih akrab jika mengucapkan tutur Bapa menjadi “Apa” saja.

Partuturan dalam suku Simalungun di bagi ke dalam 3 kategori menurut kedekatan hubungan seseorang, yaitu

Tutur manorus (langsung)

Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.

* Ompung (baca Oppung): orangtua ayah atau ibu, saudara (kakak/adik) dari orangtua ayah atau ibu
* Bapa: ayah, dibeberapa wilayah yang berbatasan dengan kultur Toba ada yang menyebut Amang, yang berkolaborasi dengan resam Melayu ada yang menyebut Ayah
* Inang: ibu
* Abang: saudara lelaki yang lahir lebih dulu dari kita.
* Anggi: adik lelaki; saudara lelaki yang lahir setelah kita.
* Botou: saudara perempuan (baik lebih tua atau lebih muda).
* Ambou/Amboru: saudara perempuan ayah; saudara perempuan pariban ayah; saudara perempuan mangkela. Bagi wanita: orangtua dari suami kita; ambou dari suami kita; atau mertua dari saudara ipar perempuan kita.
* Mangkela (baca: Makkela): suami dari saudara perempuan dari ayah
* Tulang: saudara lelaki ibu; saudara lelaki pariban ibu; ayah dari besan
* Anturang: istri dari tulang; ibu dari besan
* Parumaen: istri dari anak; istri dari keponakan; anak perempuan dari saudara perempuan istri; amboru dan mangkela kita memanggil istri kita parmaen
* Nasibesan: istri dari saudara (Ipar) lelaki dari istri kita atau saudara istri kita
* Hela: suami dari puteri kita; suami dari puteri dari kakak/adik kita
* Gawei: hubungan wanita dengan istri saudara lelakinya
* Lawei: hubungan laki-laki dengan suami dari saudara perempuannya; panggilan laki-laki terhadap putera ambou; hubungan laki-laki dengan suami dari puteri ambou (botoubanua).
* Botoubanua: puteri ambou; bagi wanita: putera tulang
* Pahompu(baca:Pahoppu): cucu; anak dari botoubanua; anak pariban
* Nono: pahompu dari anak (lelaki)
* Nini: cucu dari boru
* Sima-sima: anak dari Nono/Nini
* Siminik: cucu dari Nono/Nini

Tutur holmouan (kelompok)

Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat Simalungun

* Ompung Nini: ayah dari ompung
* Ompung Martinodohon: saudara (kakak/adik) dengan ompung
* Ompung : ayah kandung dari ayah, kalau nenek perempuan disebut inang tutua
* Bapa Tua: saudara lelaki paling tua dari ayah
* Bapa Godang: saudara lelaki yang lebih tua dari ayah, di beberapa tempat biasa juga disebut bapa tua
* Inang Godang: istri dari bapa godang
* Bapa Tongah: saudara lelaki ayah yang lahir dipertengahan (bukan paling tua, bukan paling muda)
* Inang Tongah: istri dari bapa tongah
* Bapa Gian / Bapa Anggi: saudara lelaki ayah yang lahir paling belakang
* Inang Gian / Inang Anggi: istri dari bapa gian/Anggi
* Sanina / Sapanganonkon: saudara satu ayah/ibu
* Pariban: sebutan bagi orang yang dapat kita jadikan pasangan (suami atau istri) atau adik/kakaknya
* Tondong Bolon: pambuatan (orang tua atau saudara laki dari istri/suami) kita
* Tondong Pamupus: pambuatan ayah kandung kita
* Tondong Mata ni Ari: pambuatan ompung kita
* Tondong Mangihut
* Anakborujabu: sebagai pimpinan dari semua boru, anakborujabu dituakan karena bertanggung jawab pada tiap acara suka/duka Cita.
* Panogolan: kemenakan; anak laki/perempuan dari saudara perempuan
* Boru Ampuan: hela kandung yang menikahi anak perempuan kandung kita
* Anakborumintori: istri/suami dari panogolan
* Anakborumangihut: lawei dari botou
* Anakborusanina
Tutur natipak (kehormatan)

Tutur natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak berbicara sebagai tanda hormat.

* Kaha: digunakan pada istri dari saudara laki-laki yang lebih tua. Bagi wanita, kaha digunakan untuk memanggil suami boru dari kakak ibu.
* Nasikaha: digunakan istri kita untuk memanggil saudara laki kita yang lebih tua
* Nasianggiku: untuk memanggil istri dari adik
* Anggi : adik
* Ham: digunakan pada orang yang membesarkan/memelihara kita (orang tua) atau pada orang yang seumur yang belum diketahui hubungannya dengan kita
* Handian: serupa penggunaannya dengan ham, tapi memiliki arti yang lebih luas.
* Dosan: digunakan tetua terhadap sesama tetua
* Anaha: digunakan tetua terhadap anak muda laki
* Kakak: digunakan anak perempuan kepada saudara lakinya yang lebih tua
* Ambia: Panggilan seorang laki terhadap laki lain yang seumuran atau bawahan.
* Ho: untuk orang yang derajadnya rendah. Atau panggilan bergurau bagi orang yang sudah akrab (sakkan).
* Hanima: sebutan untuk istri (kasar) atau pada orang yang berderajad lebih rendah dari kita (jamak, lebih dari seorang)
* Nasiam: sebutan untuk yang secara kekerabatan berderajad di atas (jamak, lebih dari seorang)
* Akkora: sebutan orang tua bagi anak perempuan yang dekat hubungan kekerabatannya
* Abang: panggilan pada saudara laki yang lebih tua atau yang berderajad lebih dari kita
* Tuan: dulu digunakan untuk keturunan Raja atau bangsawan
* Sibursog: sebutan bagi anak laki yang baru lahir
* Sitatap: sebutan bagi anak perempuan yang baru lahir
* Awalan Pan/Pang: sebutan bagi seorang Laki yang sudah memiliki Anak, misal anaknya Doni, maka Ayahnya disebut pan-Doni/pang-Doni.
* Awalan Nang/Nan: sebutan bagi seorang perempuan yang sudah memiliki anak, misal anaknya Doni, maka ibunya disebut nan-Doni/nang-Doni.

oleh : M Muhar Omtatok


Sumber 
Musik 
 Catatan Awal
Musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan. Dari semua karya seni, mungkin sekali musiklah yang paling mempengaruhi tradisi budaya untuk menentukan patokan-patokan sosial dan patokan-patokan individu, mengenai apa yang disukai dan apa yang diakui. Musik dapat mencerminkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang mendasarinya, yang menghidupkan kebudayaan tersebut secara menyeluruh.

Gonrang (istilah bahasa Simalungun untuk “gendang”) salah satu alat musik dari daerah Simalungun, yang telah lama ada dan berkembang di daerah Simalungun. Musik gonrang tidaklah hanya apresiasi seni semata, tetapi juga mau memperlihatkan makna dan fungsi yang sangat mendalam bagi kehidupan masyarakat Simalungun khususnya. Makna dan fungsi gonrang terwujud sebagai suasana pengungkapan hati, sebagai sarana hiburan, sebagai sarana komunikasi. Musik gonrang juga sebagai representasi simbolis yang mencerminkan nilai-nilai, pengaturan kondisi sosial dan perilaku kultur lainnya serta sebagai peneguh ritus-ritus keagamaan dan ikatan sosial.

Maksud tulisan ini adalah untuk membahas kelima fungsi gonrang Simalungun yang disebutkan diatas.

Fungsi Musik gonrang dalam komunitas masyarakat simalungun:

1. Sebagai pengungkapan suasana hati
Dimanapun di dunia ini, tampak jelas bahwa musik mempunyai peran yang kuat dalam mengungkapkan suasana hati seseorang. Pengungkapan suasana hati itu dapat bersifat spesifik seperti halnya pada lagu yang bernuansa politis maupun lagu-lagu percintaan yang mau mengungkapkan perasaan dan kepuasan diri. Apapun jenis suasana hati yang diekspresikan dalam proses pembuatan musik, akan menggugah reaksi dari para pendengar dan reaksi itu tidak lepas dari pementasannya. Maksudnya adalah nuansa lagu yang dibawakan disesuaikan dengan suasana pesta. Sebagai contoh, untuk pesta perkimpoian, pesta panen dan pesta meriah lainnya tentu sangat berbeda nuansa musiknya dengan suasana kematian atau kesedihan.

Salah satu faktor yang dianggap penting dalam menentukan reaksi suasana hati terhadap musik di kalangan masyarakat Simalungun adalah tempo musik yang dibawakan. Untuk menunjukkan suasana gembira, maka dipakai tempo sedang hingga tempo cepat. Sedangkan tempo lambat umumnya dipakai untuk yang berhubungan dengan hal-hal musibah, kekecewaan, kesedihan dan kerinduan hati. Banyaknya lagu-lagu sedih di daerah Simalungun dan digunakannya istilah inggou menggambarkan makna suasana hati dari lagu-lagu tersebut serta persepsi masyarakat Simalungun terhadap lagu-lagu tersebut. Pengungkapan perasaan mungkin paling mudah dan sederhana untuk difahami dari lirik yang dikandungnya.
Para pemain musik gonrang mempunyai peran penting dalam suasana ini. Para pemusik menjadi pemicu dalam memulai dan memfasilitasi pengungkapan perasaan yang sesuai untuk masing-masing situasi dengan cara “menghidupkan” gual (lagu yang dimainkan pada ansambel musik gonrang) yang dibawakan. Sebagai contoh, dalam tortor sombah (tortor = tarian, sombah = sembah) dimulai oleh pihak boru (orang atau klan yang menjadi pihak penerima istri kepada yang bersangkutan) dan mengarahkan kepada pihak tondong (orang atau klan yang menjadi pihak pemberi istri dari yang bersangkutan).

Sikap sembah diwujudkan dengan mengatupkan telapak tangan dengan ujung jari menghadap ke atas dan disentuhkan pada dahi, dengan sikap seperti ini pihak boru menghampiri pihak tondong. Sambil menarikan tortor sombah dihadapan pihak tondong, pihak boru memohonkan kasih sayang yang manja dari pihak tondong. Maka kerendahan hati merupakan makna dari inti tarian yang dibawakan oleh boru yang diungkapkan dalam konteks tarian dan musik yang dibawakan.

2. Sebagai sarana hiburan
Salah satu fungsi musik gonrang bagi masyarakat Simalungun adalah sebagai sarana hiburan. Karena kurangnya kesempatan untuk menikmati suasana istirahat dari kerja, maka pada saat pesta merupakan kesempatan untuk beristirahat dari aktivitas kerja. Pesta merupakan salah satu bentuk acara selingan. Ada sejumlah pesta yang dilaksanakan setiap tahun, yang termasuk di dalamnya yaitu Manumbah (penyembahan tempat keramat maupun arwah para nenek moyang).

Ada pesta yang diselenggarakan pada saat-saat khusus : pesta palaho/paroh boru (pesta pernikahan), pesta mangalo-alo tamuei (pesta penyambutan tamu atau undangan istimewa), mamongkot jabu (selamatan memasuki rumah baru) dan masih banyak kesempatan lain yang dijadikan suasana pesta. Salah satu kebiasaan dalam berpesta adalah mengundang antara kampung yang satu dengan kampung yang lain yang memiliki ikatan hubungan tondong, boru dan sanina (mereka yang berasal dari marga dan sub-marga yang sama dengan yang bersangkutan) untuk memeriahkan pesta tersebut.

Pada pelaksanaan pesta tersebut, biasanya para undangan dengan sabar mengikuti acara, khususnya pada acara adat penting dan menunggu sampai pada kesempatan mereka untuk menari. Salah satu kebiasaan pada saat menari, para undangan akan meminta gual yang menjadi kesukaan mereka (umumnya untuk pesta-pesta meriah). Kaum muda-mudi, karena belum mendapat posisi dalam masyarakat biasanya baru mendapat giliran untuk menari pada akhir-akhir acara. Untuk mereka, ini adalah kesempatan untuk bersosialisasi satu sama lain dan kesempatan untuk belajar menari pada pesta-pesta resmi.

Selain pada kegiatan adat dan tradisi musik gonrang yang disebutkan diatas, musik merupakan sarana hiburan pada kesempatan lain. Para warga, khususnya kaum pria, suka berkumpul pada malam hari sambil bernyanyi dan memainkan alat musik seperti : gitar, seruling, harmonika dan alat musik lainnya sebagai sarana hiburan.

3. sebagai sarana komunikasi
Para ahli musik telah mengakui fungsi kesenian musik adalah sebagai sarana komunikasi. Lewat nuansa musik yang dibawakan, mereka mau mengkomunikasikan seluruh perasaannya secara simbolis, baik yang menggembirakan maupun yang sedih. Nuansa kesedihan, kekecewaan dan kesepian biasanya diungkapkan dengan lirik dan bunyi lagu-lagu percintaan maupun lagu-lagu perpisahan. Kita akan lebih merasakan perasaan hati seperti ini pada sejumlah gual yang bertempo lambat. Bunyi musik juga dapat menyajikan suasana hati tertentu yang dapat membantu untuk mengungkapkan perasaan hati dan inti dari lirik yang dinyanyikan.

Selain itu, musik gonrang juga mau mengkomunikasikan identitas etnis. Sebagai salah satu dari sekian banyak kelompok etnis di Indonesia, masyarakat Simalungun yang tertarik pada tari-tarian dan musik tradisionalnya, sangat menyadari keunikan musik mereka, baik di dalam maupun di luar tradisi gonrang. Pada acara-acara silaturahmi, sebagian dari anggota masyarakat sering muncul “nasionalisme primitif kesukuan” dengan musik, tarian dan adat sebagai titik tolak semangat. Pada acara seperti ini kerap kali sangat membantu penyebaran musik dan tari-tarian Simalungun, yang mempengaruhi musik dan tari-tarian nasional Indonesia. Dengan demikian, musik Simalungun merupakan suatu acara guna mengkomunikasikan karakter dan kebanggaan etnis mereka.

4. Sebagai Representasi Simbolis
“Musik mencerminkan nilai-nilai, pengatur kondisi sosial dan perilaku kultur lainnya.”
Musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan. Dan sebagaimana aspek-aspek kebudayaan lainnya, musik niscaya akan mencerminkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang mendasarinya, yang menghidupkan kebudayaan tersebut secara menyeluruh.

Ansambel musik gonrang mempunyai hubungan erat dengan struktur adat. Status para pemain musik dalam suatu ansambel musik gonrang didasarkan atas jenis alat musik yang dimainkannya. Si peniup sarunei (alat musik tiup yang memiliki tujuh buah lubang jari) selalu diakui sebagai pemimpin di antara mereka (secara musik maupun secara adat). Ia mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan ansambel musik yang akan dimainkan. Menurut adat juga, bila pihak yang meminta gual memberikan penghargaan maka si peniup sarunei-lah yang harus menerima penghargaan tersebut. Dalam hal pendapatan di antara anggota pemain musik, ia juga yang akan mendapat imbalan yang lebih besar.

Tingkatan kedua yaitu para penabuh ansambel gonrang (gonrang si dua-dua atau gonrang bolon). Untuk gonrang si dua-dua umumnya hanya dimainkan satu atau dua orang saja, sedangkan untuk gonrang bolon umumnya dimainkan dua atau tiga orang. Mereka ini menabuh gonrang sedemikian rupa sehingga mampu memainkan gual yang dimintakan dengan mengikuti pola irama dari sarunei. Pertingkatan di antara penabuh hampir tidak ada, namun umumnya penabuh gonrang yang lebih mahir dalam memainkannya diakui sebagai yang menentukan.

Tingkatan yang ketiga yaitu para pemukul gong dan mongmongan (dua buah gong kecil yang digunakan sebagai tanda bunyi kolotomis). Meskipun musik dapat dimainkan tanpa didampingi oleh pemukul gong dan mongmongan, tetapi umumnya bagian ini juga selalu diikutkan. tugas mereka adalah membawakan kerangka dari gual tersebut, yang tujuannya untuk menambah nilai rasa dan tekanan yang menetap pada gual yang dimainkan. Sekali mereka mendapat pola yang pas dari gonrang dan sarunei, tugas mereka hanya mengulangi pola tersebut sampai gual berakhir.

Pertingkatan pada pemeran ansambel musik gonrang juga mempunyai hubungan dalam kelompok adat Simalungun. Sebagaimana pemain sarunei adalah sebagai pemimpin diantara pemain ansambel lainnya, maka kelompok tondong menduduki posisi sebagai pemimpin pada acara-acara adat (juga dalam hidup sehari-hari). Kemudian diikuti oleh kelompok boru sebagai kelompok kedua yang sangat erat hubungannya dengan tondong. Pihak tondong senantiasa memperhatikan dan memperlakukan boru-nya dengan baik dan bahkan memberikan berkat agar mereka senantiasa hidup sejahtera. Kelompok ketiga adalah kelompok sanina (keanggotaan marga dan sub marga yang berpesta). Sebagaimana pemukul gong dan mongmongan yang menambah nilai rasa pada ansambel musik gonrang, kelompok sanina ini merupakan penolong khususnya saat mempersiapkan acara pesta, pendamping bagi boru dan bagian dari boru itu sendiri.

Walaupun pengelompokan tondong, boru dan sanina dalam struktur adat mempunyai hubungan yang sangat erat dengan si peniup sarunei, penabuh gonrang dan pemukul gong dan mongmongan dalam ansambel musik gonrang, tetapi di antara kelompok ini praktisnya masih terdapat perbedaan. Pada ansambel musik gonrang, para pemainnya sangat jarang saling “bertukar posisi” atau tukar peran dalam memainkan ansambel musik gonrang.

Hanya dimungkinkan antara penabuh gonrang dengan pemukul gong dan mongmongan yang saling bertukar posisi. Pada konteks adat, posisi seseorang ditentukan oleh ikatan hubungan dengan pihak yang menyelenggarakan pesta. Dalam suatu pesta umpamanya, posisi seseorang dapat sebagai tondong namun pada saat pesta lain, dapat sebagai boru atau sanina. Jadi, seseorang dapat menempati ketiga posisi yang ada dalam kelompok ini. Dengan demikian akan ada keseimbangan, karena semua orang berkesempatan untuk memerankan salah satu dari ketiga kelompok ini dalam suatu pesta.

5. sebagai peneguh ritus-ritus keagamaan dan ikatan sosial
Salah satu kebiasaan baik bagi masyarakat Simalungun dan seluruh masyarakat Batak umumnya adalah adanya kebiasaan martutur (menelusuri silsilah satu sama lain). Hal ini dilakukan bagi mereka yang belum saling mengenal satu sama lain. Setelah saling mengetahui silsilah masing-masing, mereka akan dapat memposisikan diri satu sama lain berdasarkan aturan adat mengenai tata cara ikatan hubungan antara tondong, boru dan sanina. Ini merupakan norma yang mendukung terciptanya ikatan sosial yang kuat dalam kalangan masyarakat Simalungun.

Adat dan kelompok adat adalah unsur-unsur yang paling sentral dan kuat di kalangan masyarakat Simalungun, maupun masyarakat Batak umumnya. Kekuatan adat tersebut ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari melalui acara seperti tari-tarian adat yang dipentaskan hampir pada setiap pesta. Gual yang dibawakan pada acara tersebut pada umumnya gual yang mengingatkan pihak tondong, boru dan sanina akan tata cara keharmonisan sikap dan tindakan diantara mereka. Sikap dan kasih sayang serta tindakan mencurahkan berkat harus dipraktekkan dalam konteks sosial lingkup suasana gual yang dibawakan. Musik gonrang dijadikan sebagai sarana untuk menjaga kelangsungan nilai-nilai kultural dan keagamaan. Musik gonrang menjadi alat untuk pengikat dan peneguh ikatan sosial dan upacara-upacara kultural maupun keagamaan yang dianggap penting oleh masyarakat Simalungun.  

Kepahlawanan Menentang Penjajahan di Simalungun
Menurut sejarah yang ditulis oleh Pelopor Kebangkitan Budaya Simalungun tersebut diceritakan bahwa Tuan Rondahaim Saragih Garingging sebenarnya hanyalah anak selir dan bukanlah Putra Mahkota penerus Kerajaan Raya dari Permaisuri/Puang Bolon Kerajaan Raya,ayah Tuan Rondahaim Saragih Garingging adalah Tuan Huta Dolog Saragih Garingging dan Kakeknya adalah Tuan Morahkalim Saragih Garingging.

Ibu dari Tuan Rondahaim adalah Permaisuri Ramonta bermarga Suha yang berasal dari Panei,Permaisuri Ramonta Suha termasuk permaisuri yang disia-siakan oleh Tuan Huta Dolog,kurang diberi perhatian dibandingkan dengan permaisuri-permaisurinya yang lain.

Tuan Rondahaim mempunyai 2 orang saudara perempuan yaitu Tuan Puteri Essem dan Tuan Puteri Mudaha,sedangkan saudara tiri Tuan Rondahaim berbeda ibu adalah Tuan Joranim,Tuan Imbang,Tuan Taim,Tuan Puteri Kumek,Tuan Puteri Rimmani dan Tuan Amborokan.

Saking ditelantarkannya Permaisuri Ramonta membuat ia bersama anak-anaknya kadang tidak dikenal sebagai salah satu permaisuri Raja Raya Tuan Huta Dolog,begitu pun dengan pakaian Tuan Rondahaim kecil yang seadanya bahkan bisa dikatakan compang-camping membuat banyak yang menganggapnya rendah.

Namun Rondahaim sangat mudah bergaul dan bersikap sosial di masa mudanya dengan memberikan hasil ladangnya seperti tebu,pisang dan ubi pada masyarakat di sekitarnya membuat ia cepat mempunyai teman dari masyarakat jelata.

Bagi Tuan Rondahaim,tidak ada bedanya antara mempunyai ayah atau tidak karena Tuan Huta Dolog jarang mengunjungi mereka,Tuan Huta Dolog meninggal ditahun 1826 dan kemudian digantikan oleh saudara tirinya Tuan Huta Dolog yaitu Tuan Sinondang sebagai pelanjut Kerajaan Raya.

Oleh pamannya yang saat itu menjadi Raja Raya maka Tuan Rondahaim diangkat sebagai salah satu Raja Goraha (Panglima Perang) tentu saja dengan prestasi yang gemilang.

Suatu waktu salah satu penguasa bawahan Kerajaan Raya yaitu Tuan Mahata yang menjadi Tuan di daerah Manak Raya mau berdiri sendiri dan lepas dari kekuasaan Kerajaan Raya,membuat Tuan Sinondang sebagai Raja Raya perlu memberikan pelajaran kepada bawahannya tsb,Tuan Rondahaim ikut menuju Manak Raya bersama Raja Tuan Sinondang yang langsung memimpin pasukan untuk meredakan pemberontakan di Manak Raya.

Pada pertempuran di Manak Raya,Tuan Sinondang terkena tembakan di perutnya tepatnya di Kandung kemihnya yang kemudian menewaskannya,kejadian itu terjadi sesudah Tuan Rondahaim berumur 20tahun.

Masa pemeintahan Tuan Sinondang yang hanya 3tahun itu namun seakan-akan telah menyiapkan Tuan Rondahaim sebagai calon penggantinya,selepas kematian Tuan Sinondang maka naiklah Tuan Rondahaim sebagai penerus tahta kerajaan Raya walaupun banyak yang coba menghalanginya.

Cita-cita dari Tuan Rondahaim hanyalah satu yaitu memperluas Kerajaan Raya karena Kerajaan Raya masih kecil pada saat itu jika dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan lain yang ada di Simalungun.Jadi Ia menginginkan Kerajaan Raya menjadi luas dan terkenal.

Selanjutnya Tuan Rondahaim banyak melakukan expansi baik pada kerajaan-kerajaan di sekitarnya maupun perlawanan pada expansi penjajah Belanda di Kerajaan Raya,ketangguhan Tuan Rondahaim membuat Belanda sulit menaklukkan Kerajaan Raya hingga di akhir hidup Tuan Rondahaim.

Tuan Rondahaim,sang raja sejati Kerajaan Raya itu meninggal dengan tenang di Raya,bukan di medan juang karena ia tidak pernah terkalahkan.

Ada baiknya agar para generasi muda Simalungun untuk mewarisi semangat juang yang dimiliki oleh Tuan Rondahaim dalam mempertahankan prinsip yang tidak mau kalah dari pengaruh bangsa asing seperti Belanda,karena sesungguhnya suku bangsa Simalungun sendiri mempunyai tata aturan hidup dengan norma-norma yang cukup layak untuk dipertahankan hingga saat ini ketimbang terlalu jauh dipengaruhi oleh serangan westernisasi dari Amerika maupun Eropa.

Jika setiap generasi muda Simalungun mempunyai semangat seperti yang dimiliki oleh Tuan Rondahaim pasti Simalungun akan cepat maju dan jauh meninggalkan daerah-daerah di sekitarnya bahkan bisa menjadi barometer bagi daerah lain karena sifat Tuan Rondahaim yang cinta pada budaya sendiri dan ingin selalu menjaga wilayahnya dari pengaruh asing.

Sumber

Kepahlawanan Menentang Penjajahan di Simalungun
 
SANG NAUALUH, RAJA SIANTAR

Dewasa itu, Simalungun sangat anti kolonialime. Pernyataan ini bukan tidak beralasan, Tuan Rondahaim Raja Kerajaan Raya, misalnya, menolak kedatangan Tengku Mohamad Nurdin seorang Raja dari Kerajaan Padang di Bulian Tebing Tinggi karena membawa buah tangan produk negeri kolonial, gramafon; padahal keduanya merupakan saudara dekat karena Tuan Rondahaim bermarga Saragih Galingging dan Tengku Mohamad Nurdin bermarga Saragih Dasalak, serta Rondahaim pernah membela mati-matian akan kedudukan Tengku Mohammad Nurdin sebagai Raja Kerajaan Padang di Tebing Tinggi yang saat itu direbut Deli.

Bahkan Tuan Rondahaim membakar tempat kediaman disuatu wilayah, yang menurutnya, punya ekses terhadap kolonial.

Perlawanan Tuan Raimbang dari Dolog Panribuan. Akhirnya Tuan Raimbang tertangkap dan dibuang ke Pulau Jawa dan tidak diketahui tempat atau makamnya hingga kini. Tuan Jontama Purba Dasuha, Raja Panei, sampai saat ini juga belum diketahui tempat atau makamnya karena protes akibat kesewenang-wenangan pemerintah kolonial kepada Asisten Residen Sumatera Timur di Medan. Serta perlawanan rakyat Girsang dan Simpangan Bolon yang menyerang pos kolonial di Parapat dan dapat dilumpuhkan pada 1906.

Lain lagi dengan Pangulu Amat (1899-1978) seorang Hoofd Penghulu di Bandar Tinggi, merelakan harta serta perhiasan istrinya untuk perjuangan rakyat Bandar Tinggi, Sibatu-batu dan Partimbalan untuk menentang kolonialisme berkuasa. Ahmad Rasjid Damanik, begitu nama asli Pangulu Amat, mampu menyatukan Orang Simalungun dengan Puak Banjar, Rao, Melayu, Mandailing dan Jawa yang sebelumnya terpecah belah karena ulah devide et impera-nya Belanda. Ketika Belanda mengejar-ngejar Pangulu Amat untuk dibuang ke Digul, Pangulu Amat lari mengatur siasat ke Bandar Sakti Tebing Tinggi, sehingga seorang pejuang tangan kanan Pangulu Amat bernama Buyung mengorbankan diri untuk dibuang ke Digul.

Begitu pula dengan SANG NAUALUH, raja ke XIV dari Kerajaan Siantar di Simalungun dari klen Damanik. Sosok bangsawan patriotik nan sufi ini adalah putra Tuan Mapir yang bermarga Damanik dan ibunya bernama Panak Boru Gajing dari klen Saragih. Ketika Kontelir Kroesen melakukan pertemuan dengan Sang Naualuh, pada 16 September 1888, Sang Naualuh dipangku secara adat oleh bapa angginya Tuan Anggi serta didampingi Raja Hitam dan Bah Bolak. Kontelir Kroesen meminta agar Kerajaan Siantar bersedia tunduk ke bawah Pemerintahan Hindia Belanda. Namun yang terjadi, Sang Naualuh menolak tegas permintaan wakil Pemerintah Belanda, sehingga Belanda menganggap Sang Naualuh tidak menghormati undangan mereka. Padahal usia Sang Naualuh baru 17 tahun saat itu, cukup belia untuk mampu menjadi pengambil keputusan bagi orang kebanyakan.

Melihat sikap Sang Naulauh yang tegas dan anti kompromis dengan penjajah, akhirnya Belanda mengambil hati dengan menerbitklan Besluit No. 25 (tgl. 23 Oktober 1889) yang berisi pengakuan Sang Naualuh sebagai Raja Siantar. Padahal tanpa besluit tersebut, Siantar mempunyai otonomi dan cara sendiri untuk menabalkan seorang Raja.

Besluit ini menyiratkan kehati-hatian Belanda terhadap sikap Sang Naualuh / Simalungun, mencari perhatian Sang Naualuh serta ingin mempermudah ruang gerak Belanda dalam kekuasaan birokrasi serta penanaman modal asing pada lahan perkebunan. Namun semua ini tidak digubris Sang Naualuh yang sangat diteladani rakyatnya ini.

Sikap patriotik Sang Naualuh tampak jelas ketika melihat prilaku Tuan Marihat. Meskipun Tuan Marihat adalah bapa angginya, namun Sang Naualuh sempat mengusir keluar dari Kerajaan Siantar karena dianggap tidak menunjukkan sikap proaktif terhadap Kerajaan Tanah Jawa yang akan diserang Belanda. Walau kemudian untuk menghindarkan masuknya politik campur tangan Belanda, pada Maret 1891 Sang Naualuh memanggil dengan arif sang bapa anggi, Tuan Marihat, untuk kembali berdamai.

Pada tahun 1901, Sang Naualuh memeluk agama Islam dari agama leluhur sebelumnya. Sang Naualuh mengajarkan kebersihan hati dan fisik kepada rakyatnya. Dengan kebersihan hati, firasat akan tajam. Dengan kebersihan fisik, firasat akan terejawantah.

Mungkin sepele, namun Sang Naulauh mengajarkan rakyatnya untuk mandi setiap hari dan menyikat gigi dengan teratur serta mencukur rambut. Untuk produktifitas lahan dan hasil pertanian, Sang Naualuh mengajarkan sistem lahan tetap karena sebelumnya memakai sistem lahan berpindah serta mengajarkan penanaman serempak dengan menata ulang kembali adat yang sudah ada di masyarakat Simalungun, yaitu marharoan (gotong royong) dan marsialop ari (kelompok tani).

Kepahlawanan Menentang Penjajahan di Simalungun
Kemudian juga, Beliau menggiatkan pengajian, dengan mendirikan Makhtab di wilayah Pamatang, Perdagangan maupun Bandar Tinggi. Beliau juga mendatangkan Mualim dari Pagurawan, Minangkabau, Mandailing dan beberapa tempat lainnya.

Melihat sikap Sang Naulaluh yang terus saja membenahi pembangunan fisik dan rohani wilayah Kerajaan Siantar tanpa melibatkan campur tangan Pemerintah Hindia Belanda, berkali-kali kontelir Belanda di Batubara melayangkan surat panggilan. Bukan menghadiri panggilan Meneer Belanda itu, Sang Naualuh malah meminta Sang Meneer dan utusan untuk bertobat atau jika tidak akan diserang oleh Pasukan Inti Kerajaan Siantar.

Akhirnya Kontelir Belanda di Batubara sudah kehabisan cara. Kontelir mengadukan sikap yang membahayakan dari Sang Naulauh terhadap keutuhan dan harga diri Pemerintahan Hindia Belanda kepada Gubernemen. Dengan penuh kemarahan Gubernemen mengeluarkan Besluit No. 1 (tgl 24 April 1906). Besluit tersebut memaktub tentang penjatuhan kekuasaan Sang Naulauh serta membuangnya ke Pulau Bengkalis.

Dengan berbagai cara perlawanan, akhirnya bersama salah seorang Tangan Kanannya, Bah Bolak, Sang Naualuh diasingkan.

Pada 16 Oktober 1907 oleh Tuan Torialam (Tuan Marihat) dan Tuan Riah Hata (Tuan Sidamanik), melalui Verklaring (Surat Ikrar), dinyatakan tunduk kepada Belanda.

Dalam butir satu dari Verklaring yang memakai aksara Arab Melayu dengan Bahasa Melayu dan aksara Latin dengan Bahasa Belanda itu, tertulis, “

Ten eerste: dat het landschap Siantar een gedeelte uitmaakt van Nederlandsch Indie en derhalve staat onder de heerschappij van Nederland..” (Pertama: bahwa wilayah Siantar merupakan bagian dari Hindia Belanda dan karena itu berada di bawah kerajaan Belanda…). Masih ditambahkan bahwa akan setia kepada Ratu Belanda dan Gubernur Jenderal.

Sejak itu Kerajaan Siantar di bawah pengawasan Belanda. Belanda kemudian menobatkan putra Sang Naualuh yang masih teramat muda, Tuan Riah Kadim menjadi raja pengganti. Tuhan Riah Kadim yang masih polos itu kemudian diserahkan Belanda kepada Pendeta Zending Guillaume di Purba. Pada Tahun 1916, Tuhan Riah Kadim diubah namanya menjadi Waldemar Tuan Naga Huta dan diakui Belanda sebagai Raja.

Sedang Sang Naulauh di pembuangan, Beliau menempati sebidang tanah perladangan bekas milik Syahbuddin gelar Batin Senggoro dekat sungai Bengkalis.

Walaupun di negeri pembuangan, Sang Naualuh tetap mengirim kabar kepada rakyat di Kerajaan Siantar untuk membangkitkan semangat juang Habonaron dobona yaitu kebenaran sebagai cikal dari segalanya. Pada tahun 1913 ketika kerabat beliau berkunjung, dibelakang sebuah photo yang diberikan, beliau menulis dalam bahasa dan aksara Simalungun. Tulisan itu kira-kira bermakna: “Orang tua kami, bersatulah di dunia selama hidup demi keutuhan bangsa. Saya diperantauan”.

Pada tahun 1914, Sang Naualuh mangkat dan dikebumikan disebuah tanah wakaf di Jl Bantam Bengkalis. Beliau pergi dengan meninggalkan bekas kesufiannya, Sapangambei Manoktok Hitei, seiring seirama menggapai tujuan.





(M Muhar Omtatok)
Sumber 
Old Photo


Raja Siantar – Tuan Sawadim (morga Damanik) & Raja Dolog Silou – Tuan Ragaim (morga Purba), 1930-an.


radja dolog


Kediaman Raja Siantar - Tuan Sawadim Damanik. Photo diambil saat Tuan Sawadim menerima anugrah Gouden Ster. 1935-04-06


pasukan radja


radja-gamok (raja raya)


radja parade
Raja-raja Simalungun pada Harungguan Bolon di Pamatang Siantar, 1930. Dari kiri ke kanan: Raja Tanoh Jawa - Sang Majadi (morga Sinaga), Partuanon Silou Kahean - Tuan Gaib (morga Purba), Raja Raya - Tuan Gomok (morga Saragih Garingging), Raja Siantar - Tuan Sawadim (morga Damanik), Raja Panei - Tuan Bosar Sumalam (morga Purba), Raja Dolog Silou - Tuan Ragaim (morga Purba) , Raja Purba - Tuan Mogang (morga Purba), Partuanon Bandar - Tuan Desta Bulan (morga Damanik) dan Raja Silimakuta - Tuan Padiraja (morga Girsang)


Raja - Raja Simalungun, 1930


toean djorlang kataran


toean-sidamanik

sumber1 dan
sumber2 









 
Tarian Simalungun
Tari Toping-Toping dan Tangis-Tangis









Toping-toping dan tangis tangis adalah jenis tarian tradisional dari suku Batak Simalungun yang dilaksanakan pada acara duka cita di kalangan keluarga Kerajaan. Toping-toping atau huda-huda ini terdiri dari 3 (tiga)m bagian, bagian pertama yaitu huda-huda yang dibuat dari kain dan memiliki paruh burung enggang yang menyerupai kepala burung enggang yang konon menurut cerita orang tua bahwa burung enggang inilah yang akan membawa

roh yang telah meninggal untuk menghadap yang kuasa, bagian yang kedua adalah manusia memakai topeng yang disebut topeng dalahi dan topeng ini dipakai oleh kaum laki-laki dan wajah topeng juga menyerupai wajah laki-laki dan kemudia topeng daboru dan yang memakai topeng ini adalh perempuan karena topeng ini menyerupai wajah perempuan (daboru). Pada tanggal 06 s/d 08 Agustus 2009 tepatnya di Kota Perdagangan Pematang Siantar diadakan acara yang disebut dengan Pasta Rondang Bintang, acara ini dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya. Dalam acara ini digelar berbagai kegiatan seni dan budaya diantaranya berbagai jenias tari daerah Simalungun, Festival Lagu daerah, permainan tradisional (Jelengkat atau enggrang) dan Festival Toping-toping dan tangis-tangis.

Festival toping-toping dan tangis-tangis ini diadakan pada acara Pesta Rondang Bintang dengan tujuan untuk mengangkat dan mengembangkan kembali peranan toping-toping atau tangis-tangis yang biasanya dilaksanakan pada saat acara duka cita di daerah Simalungun. Pada Zaman dahulu penampilan huda-huda atau toping-toping dan tangis-tangis hanya dilaksanakan dikalangan keluarga kerajaan saja dan karena sekarang

keberadaannya sudah tidak ada lagi, maka akan diaktifkan kembali dalam kehidupan sehari hari. Dari sekian lama Pesta Rondang Bintang dilaksanakan baru kali ini diadakan festival toping-toping dan tangis-tangis karena dari pengamatan dan pantauan dilapangan sudah sangat jarang dan biasanya acara ini juga dilaksanakan jika orang yang punya hajatan adalah orang yang sudah saur matua atau orang yang sudah lengkap anak, cucu dari masa tuanya.

Dengan keragaman budaya yang ada di Indonesia, tentanya kebudayaan ini sangatlah penting arti dan manfaatnya dimasa mendatang, oleh sebab itu diharapkan hendaklah kita dapat melestarikan budaya peninggalan nenek moyang kita yang diwariskan kepada kita dan anak cucu kita. Kalau ditinjau dari segi jenis tarian dan kebudayaan, tari toping-toping dan tangis-tangis ini tidak dapat kita jumpai dimanapun terkecuali di daerah Simalungun dan ini akan menjadi aset atau kekayaan budaya daerah Simalungun khususnya dan Sumatera Utara juga Indonesia pada umumnya, oleh sebab itu marilah kita menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya yang kita miliki.

Sumber
Istana Raja Purba
Rumah Bolon Pamatang Purba Kecamatan Purba Simalungun berdiri abad XV pada masa kerajaan Tuan Pangultop ultop. Setelah itu, ada 13 kerajaan yang silih berganti menduduki Rumah Bolon tersebut yaitu

Kings of the Purba Dynasty

1. Tuan Pangultop Ultop, 1624-1648
2. Tuan Ranjinman, 1648-1669
3. Tuan Nanggaraja, 1670-1692
4. Tuan Batiran, 1692-1717
5. Tuan Bakkaraja, 1718-1738
6. Tuan Baringin, 1738-1769
7. Tuan Bona Batu, 1769-1780
8. Tuan Raja Ulan, 1781-1796
9. Tuan Atian, 1800-1825
10. Tuan Horma Bulan, 1826-1856
11. Tuan Raondop, 1856-1886
12. Tuan Rahalim, 1886-1921
13. Tuan Karel Tanjung, 1921-1931
14. Tuan Tuan Mogang, 1933-1947

ada 8 bangunan yang masih utuh sampai sekarang yaitu, Rumah Bolon, Balai Bolon, Pattangan Raja, Pattangan Puang Bolon, Jambur, Losung, Balai Buttu dan Jabu Jungga. “



















tapi sayang gan rumah tsb sekarang sangat2 memprihatinkan..
berharap pemda setempat membenahi..

sumber
Guru
Sebelah kanan adalah Guru Raya Ibrahim Purba Dasuha (Datu Borahim), putra Taraluan Purba. Berpose bersama muridnya di depan Museum Simalungun, 1939.


Zaman dahulu di tiap kerajaan Simalungun ada Guru Bolon dan tiap kampung ada Guru Huta. Guru Raya merupakan penasehat utama dari Raja Raya baik dalam hal pemerintahan, spiritual, dan pengobatan. Yang berhak menjabat sebagai Guru Raya yaitu bermarga Purba Sidasuha yang tidak lain merupakan Tondong Raja Raya. Periodeisasi Guru Raya pra kemerdekaan sebelum meletusnya Revolusi Sosial telah berlangsung selama 8 periode yang dimulai sejak masa kepemimpinan Raja Raya IX Tuan Raya Nengel (1640-1720) ditunjuklah Guru Raya I bernama Tuan Rasaim, berlanjut ke masa Tuan Raya Bolon (1675-1750) yaitu Tuan Mortik sebagai Guru Raya II, Raja Martuah (1710-1783) Tuan Sahama sebagai Guru Raya III, Tuan Morah Kalim (1755-1810) Tuan Sinainta sebagai Guru Raya IV, Tuan Jimmahadin (1790-1840) Guru Raya V dijabat Tuan Murjama, Tuan Rondahaim bergelar Tuan Namabajan (1828-1889) Guru Raya VI dijabat oleh Tuan Taraluan, lalu pada masa Tuan Sumayan bergelar Tuan Hapultakan (1857-1932) sebagai Guru Raya VIII dijabat oleh Tuan Ibrahim sejak tahun 1917 hingga terus berlanjut ke masa pemerintahan Tuan Gomok (1881-1940) dan pemangku terakhir Tuan Jaulan Kaduk (1922-1946) masih tetap dijabat oleh Tuan Ibrahim hingga meletusnya Revolusi Sosial tahun 1946. Keberadaan Guru Raya hingga saat ini masih tetap eksis, namun popularitasnya sudah tidak lagi seperti dulu, pelaksana Guru Raya saat ini dipegang oleh putra Tuan Ibrahim bernama Tuan Jonam Purba Sidasuha yang berdomisili di Raya. Seluruh peninggalan Guru Raya masih tersimpan dengan rapi di kediaman terakhirnya di Jl. Linggarjati No.10 (Termin/ Dekat Taman Makam Pahlawan) Kota Pamatang Siantar. Rumah ini sekarang ditempati oleh putra terakhirnya Salim Efendi Purba Sidasuha, S.Ag. Pada gambar profil tampak Guru Raya Ibrahim Purba Dasuha berpose dengan pustaha laklak di depan Museum Simalungun pada tahun 1939. Ibrahim disebut juga Guru Bolon 4 zaman (zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang, zaman kemerdekaan, dan zaman bebas merdeka). Ia meninggal pada tanggal 24 Oktober 1977 di Pematang Siantar dalam usia + 103 tahun. Adapun Masrul Purba Sidasuha merupakan keponakan dari Tuan Ibrahim, jalur silsilah keduanya bertemu pada generasi ke - 5 seperti berikut: Tuan Sinainta - Tuan Murjama - Tuan Taraluan - Tuan Ibrahim - Salim Efendi. Tuan Sinainta - Tuan Jonam - Tuan Moraini - Muhammad Syukur - Masrul.

Oleh masrul purba 
Aksara dan Bahasa Simalungun



Sebelum mengenal tulisan bahasa Simalungun hanya dapat diungkapkan dalam bentuk lisan, orang
Simalungun mulai mengenal tulisan adalah semenjak datangnya pengaruh bangsa India. Aksara
Simalungun (surat sappuluh siah) yang kita kenal saat ini dan banyak tertulis dalam
pustaha-pustaha Simalungun tidak lain merupakan sumbangan dari aksara pallawa dari India.
Menurut para ahli, aksara pallawa ini masuk ke tanah Batak melalui daerah Mandailing, dekat
perbatasan Sumatera Barat, di tempat itu ia kemudian berkembang dan menyebar ke daerah di
antara Parapat dan Balige, dari sana ia kemudian menyebar ke Simalungun dan Toba. Arah
penyebaran berikutnya lebih banyak datang dari Simalungun, yang kemudian menyebar ke Toba,
Pakpak dan Karo; lalu dari Toba ke Pakpak, dan kemudian dari Pakpak meluas lagi ke Karo (Van
der Tuuk, Parkin, dan Kozok). Seperti halnya aksara Batak yang lain, aksara Simalungun
dibagi dalam 2 bentuk, yaitu indung ni surat (ibu huruf) dan anak ni surat (anak
huruf/diakritik).
Dalam bahasa Simalungun terdapat sejumlah fonem yang jarang ditemukan pada bahasa batak yang
lain. Fonem-fonem itu ada yang berbentuk konsonan dan ada pula berbentuk diftong.
Fonem-fonem itu adalah /ou/, /ei/, dan /ui/; /h/, /d/, /g/, dan /b/, dan semuanya terletak
pada akhir kata. Di samping bahasa Simalungun, fonem /ou/, /ei/, dan /ui/ ini juga banyak
dijumpai pada bahasa-bahasa rumpun Melayu, Karo, Alas di Aceh Tenggara, dan Keluet di Aceh
Selatan. Fonem /ou/, /ei/, dan /ui/ ini dalam bahasa Simalungun disebut dengan anak ni surat
atau diakritik, hanya Simalungunlah yang mengenal diakritik khusus untuk fonem-fonem ini,
yang masing-masing bernama hatulungan, hatalingan, dan hatuluyan. Fonem berdiftong /ou/ juga
terdapat pada aksara Karo, tetapi tidak pada aksara-aksara Batak lainnya. Namun di Karo,
tidak terdapat diakritik khusus untuk fonem /ou/, dan penggunaannya hanya terbatas pada
bahasa Karo yang berdialek Jahe-jahe yang bermukim di Deli Serdang dan Langkat, tidak meluas
hingga ke dialek Karo yang lain yang memang bermukim di pusat daerah Karo, seperti dialek
Kabanjahe dan Gunung. Bahasa Alas dan Keluet yang sudah tidak memiliki aksara asli seperti
di tanah Batak dan telah digantikan dengan aksara Jawi atau Arab Melayu, sehingga sulit
menjelaskan keberadaan fonem-fonem berdiftong tersebut. Kendati demikian, bahasa Alas dan
Keluet sebenarnya adalah wujud dari kombinasi bahasa Pakpak, Karo, Simalungun, Aceh, dan
Melayu. Jadi bila ditelusuri bentuk dari aksara aslinya yang kini telah punah kemungkinan
tidak jauh berbeda dengan aksara Karo dan Simalungun.
Dalam bahasa Simalungun, fonem /ou/ dapat dilihat pada kata horbou, pisou, magou, kahou,
sopou, lahou, lopou, babou, dan dilou. Kemudian fonem /ei/ pada kata lobei, hitei, bogei,
dogei, atei, dan buei. Selanjutnya fonem /ui/ terdapat pada kata tondui, langui, apui,
sungui, babui, ampodui, surui, dan haluhui. Selanjutnya dalam bahasa Alas, yaitu pada kata
endou, enggou, idou, benei, melohei, awei, kelukui, tendui, dan apui. Dalam bahasa Keluet
yang hanya mengenal fonem /ou/ dan /ei/ saja, yaitu pada kata kou, kerbou, tangkou, benei,
kunei, awei, atei, dan mbuei. Sedang dalam bahasa Karo, yaitu pada kata dilou, belou, sapou,
rimou, ayou, namou, payou, matei, berei, isei, keina, benei, dan lumei. Bila dilihat
padanannya dengan bahasa bahasa Batak yang lain (Toba, Mandailing-Angkola, Pakpak) fonem
/ou/ biasa berbunyi /o/ seperti pada kata-kata berikut horbo, piso, mago, sopo, laho, babo,
tangko, dan dilo; /ei/ berbunyi /e/ seperti kata lebe, hite, bege, dege, ate, dan mbue; dan
/ui/ berbunyi /i/ seperti kata tondi, langi, api, babi, suri, dan halihi.
Selain itu bahasa Simalungun juga mengenal fonem akhir /h/ seperti pada kata daroh, babah,
roh, dilah, soh, dan gogoh; fonem ini tidaklah khusus dalam bahasa Simalungun, karena fonem
akhir ini juga terdapat pada bahasa Pakpak, Karo, Alas, dan Keluet; tetapi tidak untuk
bahasa Toba, Mandailing, dan Angkola mereka tidak mengenal sedikitpun akan penggunaan fonem
ini, bagi mereka kata daroh akan berbunyi daro, babah akan berbunyi baba, roh akan berbunyi
ro, dilah akan berbunyi dila, dan gogoh akan berbunyi gogo. Bila ditelusuri lebih jauh fonem
/ou/, /ei/, /ui/, dan /h/ ini merupakan fonem warisan langsung dari bahasa Austronesia kuno
yang telah lama punah. Sebagaimana kita ketahui bahasa Austronesia kuno ini merupakan bahasa
induk yang menurunkan seluruh bahasa di sebagian besar kawasan Asia Tenggara termasuk
Indonesia.
Voorhoeve (1955) pernah mengemukakan bahwa bahasa Simalungun juga mengenal fonem penutup
/d/, /g/, dan /b/, yang juga tidak terdapat di antara kosa kata bahasa Batak yang lain.
Fonem penutup ini masih tampak sekali dalam beberapa kata, baik itu diucapkan maupun
ditulis. Fonem /d/ terdapat pada kata bod, saud, tuod, agad, sogod, bagod, sarad, dan alud.
Sedang fonem akhir /g/ pada kata dolog, pusog, balog, gijig, ubag, lanog, gilog, borgog,
bolag, bogbog, pag, dan ulog. Kemudian fonem akhir /b/ pada kata dob, rongkob, dorab, tayub,
dan sab. Pada bahasa Pakpak dan Karo /d/ berubah menjadi /n/, dan /g/ menjadi /ng/, seperti
kata bod menjadi bon/ben, saud menjadi sahun, tuod menjadi tiwen, sogod menjadi cegen, sarad
menjadi saran, dan alud menjadi alun. Kemudian kata dolog menjadi deleng, pusog menjadi
puseng, balog menjadi baleng, lanog menjadi laneng, borgog menjadi bergeng, bolag menjadi
belang, dan pag menjadi pang. Sedang fonem /b/ belum dapat ditentukan bentuk perubahannya.
Dan bentuk ini menurut Voorhoeve lebih dekat kepada bahasa Sanskerta yang banyak
mempengaruhi bahasa-bahasa Nusantara. Sementara dalam bahasa Batak yang lain (Toba,
Mandailing-Angkola) fonem /d/ berbunyi /t/ seperti tampak pada kata-kata berikut *bod--bot,
*saud--saut, *tuod--tot, *agad--agat, *sogod--sogot, *bagod--bagot, *sarad--sarat, dan
*alud--arut; /g/ berbunyi /k/ seperti *dolog--dolok, *balog--balok, *lanog--lanok,
*bolag--bolak, dan *ulog--ulok; sedang fonem b belum dapat ditentukan bentuk perubahannya.
Gorys Keraf dalam bukunya Linguistik Bandingan Historis mengemukakan, bahwa fonem /d/, /g/,
dan /b/ merupakan fonem yang dianggap bermasalah dalam beberapa bahasa, tidak hanya pada
bahasa Nusantara, tetapi juga pada bahasa di Eropa. Karena fonem /d/, /g/, dan /b/ ini
secara deskriptif biasanya mengalami proses netralisasi ketika berada di posisi akhir, dan
berganti dengan fonem /t/, /k/, dan /p/. Padahal sebenarnya fonem tersebut dapat muncul
dalam posisi awal, tengah, dan akhir. Hal itulah yang menjadi masalah, karena saat ini
banyak bahasa yang tidak lagi menampilkan gejala tersebut. Timbul pertanyaan, mengapa bahasa
Simalungun masih menampilkan gejala tersebut?.
Selanjutnya bila ditinjau dari keaslian bahasa, pada hakikatnya tiada satupun bahasa di
nusantara bahkan di dunia yang bisa dikatakan asli atau masih menunjukkan keasliannya,
maksud asli di sini bahasa itu memang dihasilkan atau diciptakan secara murni dan utuh oleh
pengguna bahasa itu. Karena memang jauh sebelum manusia dan bahasa tumbuh dan berkembang
pesat seperti sekarang ini, keaslian bahasa itu memang telah terkontaminasi. Proses
kontaminasi yang berdampak pada pudarnya keaslian bahasa itu dipicu oleh adanya akulturasi
atau hubungan antara manusia dengan manusia atau bahasa dengan bahasa yang saling berbeda,
hal ini berefek pada percampuran budaya atau bahasa. Bahasa Indonesia saja yang semula asli
karena hanya terdapat bahasa Melayu di dalamnya, kini perlahan telah mengalami kepudaran,
karena pada saat ini bukan hanya bahasa Melayu saja yang terkandung didalamnya tetapi telah
banyak dimasuki unsur-unsur bahasa nusantara yang lain, seperti bahasa Minangkabau, Jawa, Sunda, Palembang, dan lain-lain. Masuknya unsur bahasa yang lain itu sebenarnya tidak lain
hanya untuk melengkapi atau memperkaya khazanah perbendaharaan kata bahasa Indonesia, dan
kondisi ini memang tidak perlu dipermasalahkan, karena bahasa Indonesia ‘kan bukannya bahasa
yang dimiliki oleh eka-suku atau dwi-suku melainkan dimiliki oleh multi-suku yang semuanya
berhak menyumbangkan bahasa sukunya untuk memperkaya bahasa Indonesia. Dan proses itu
merupakan peluang yang nantinya dapat dipergunakan oleh orang Batak khususnya orang
Simalungun untuk menjadikan bahasanya menjadi bagian dari bahasa Indonesia.
Hal demikianlah yang terjadi pada bahasa Simalungun, meski telah diungkapkan di atas istilah
asli yang berkaitan dengan dialek, namun hal itu tidak bermakna asli sebagaimana dijelaskan
di atas, melainkan bahasa Simalungun itu telah sah dan disepakati menjadi bahasa baku oleh
seluruh komponen orang Simalungun, kendatipun bahasa itu tidak seutuhnya dihasilkan atau
diciptakan oleh mereka. Dalam bahasa Simalungun terdapat cukup banyak kata-kata yang bukan
produk Simalungun. Kata-kata itu umumnya diadopsi dari bahasa Sanskerta, Arab, Persia, dan
Tamil. Kata serapan dari bahasa Sanskerta saja sangat banyak sekali digunakan, seperti dalam
menyebut nama-nama dewa dengan mamis, bisnu, sori, hala, dan borma yang tidak lain adalah
perubahan bentuk dari kata shiwa, whisnu, sri, kala, dan berahma; menyebut gugusan bintang
dengan mesa, morsoba, mituna, harahata, singa, hania, tula, mortiha, dahanu, mahara, humba,
dan mena yang dalam bahasa Sanskertanya mesa, vrisabha, mithuna, karkata, singha, kanye,
tule, vrstika, dhanu, makara, kumbha, dan mina. Kemudian untuk menyebut nama-nama hari
seperti adintia, suma, anggara, mudaha, boraspati, sihora, dan samisara yang dalam bahasa
sanskertanya berbunyi aditya, soma, anggara, budha, brihaspati, syukra, dan syanaiscara.
Selanjutnya untuk menyebut nama-nama mata angin (Sim: deisa na waluh) seperti purba,
pastima, otara, daksina, agoni, nariti, manabia, irisanna yang merupakan perubahan bentuk
dari kata purva, pastjima, uthara, daksina, agni, nairti, wajawia, dan aisana. Tidak hanya
itu untuk kata-kata yang bersifat umum bahasa Sanskerta juga banyak yang diserap dan
kemudian di-Simalungunkan seperti kata boniaga yang berasal dari kata vanijya, naibata dari
kata devata, purba dari kata purva, porsaya dari kata pratyaya, dousa dari kata dosha,
bangsa dari kata wangsa, susian dari kata sisya, horja dari kata karya, arga dari kata
argha, halani dari kata karana, rupa dari kata rupa, ugama dari kata agama, nagori dari kata
nagari, basa dari kata waca, balei dari kata walaya, banua dari kata wanua, barita dari kata
wrtta, nanggurdaha dari kata garuda, gajah dari kata gaja, husapi dari kata kacchapi, huta
dari kata kuta, nagori dari kata nagari, dan masih banyak lagi yang lain. Selanjutnya
serapan dari bahasa Arab seperti kata pingkir yang diserap dari kata fikr, adat dari kata
adat, dunia dari kata dunya, uhum dari kata hukm, sibolis dari kata iblis, dan lain-lain.
Kemudian serapan dari bahasa Persia seperti kata saluar yang berasal dari kata shalwar,
sarunei yang berasal dari kata surnai, pinggan yang berasal dari kata pinggan. Dan yang
terakhir serapan dari bahasa Tamil seperti kata bodil yang diserap dari kata badil, sohei
dari kata Tamil cukkai, mandihei dari kata Tamil komattikai, dan lain-lain. Kita belum dapat
menentukan secara pasti bagaimana proses penyerapan kata itu terjadi, apakah memang langsung
diserap dari bahasa Sanskerta, Arab, Persia, dan Tamil atau melalui bahasa lain yang memang
pernah mengadakan kontak langsung dengan bahasa itu.
Kendati tampak banyak perbedaan dengan bahasa Batak yang lain, namun eksistensi bahasa
Simalungun takkan terlepas dari bahasa di sekelilingnya. Bahasa Simalungun takkan dapat
menarik diri bila dikatakan memiliki kesamaan yang besar dengan bahasa Toba, Mandailing, dan
Angkola sebagai Rumpun Selatan. Dan tidak dapat disangkal pula bila bahasa Simalungun banyak
memiliki kesamaan dengan bahasa Pakpak, Karo, Alas, dan Keluet sebagai Rumpun Utara. Dalam
bahasa Karo saja terdapat sekitar 80% kesamaan dengan bahasa Simalungun. Mengapa terjadi
demikian? karena bahasa Simalungun dilihat dari posisinya berdiri di antara kedua rumpun
tersebut (Voorhoeve: 1955). Namun menurut Adelaar (1981), meski demikian bahasa Simalungun
sebenarnya adalah salah satu cabang dari bahasa rumpun selatan, yang berpisah dengan bahasa
Toba, Mandailing, dan Angkola sebelum bahasa itu terbentuk. Dari ungkapan Adelar itu,
berarti bahasa Simalungun telah ada sebelum bahasa rumpun selatan lain terbentuk yang
kemudian berpisah. Hal itu sesuai dengan Kozok (1999:14) yang menegaskan bahwa jika ditilik
dari persebaran bahasa dan aksara Batak, bahasa dan aksara Simalungun jauh lebih tua
daripada bahasa dan aksara Batak Toba, Pakpak, dan Karo.
Sungguh luas sebenarnya kajian mengenai bahasa Simalungun ini, tapi untuk saat ini hanya
demikian yang dapat penulis utarakan. Horas….!!! Diatei Tupa Batta Haganupan.
Sumber : Kaskus 
Pantun Simalungun (uppasa)
"ia Malas Ma ari Malas ma paruhuran"

Fungsi Uppasa di Simalungun

Uppasa adalah betuk puisi lama yang mirip dengan pantun dalam sastra melayu, yakni berupa puisi rakyat yang mencakup seluruh lapisan masyarakat dan segala tingkatan umur. (ads: adatbatak.com) ada uppas ank-ank, muda-mudi, dan orang tua.

pada umumnya yang disebut dengan pantun terdiri dari empat larik; kalau dua larik disebut gurindam. (ads: adatbatak.com) kalau enam,delapan,sepuluh larik disebut talibun. namun, simalungun tidak pengenal pembagian pantun menurut jumlah larik tersebut semuanya disebut uppasa.

Apa fungsi uppasa di Simalungun ?


Uppasa adalah sastra lisan yang dipergunakan sebagai alat komunikasi, milsanya dahulu komunikasi antar muda-mudi berlangsung melalui tonja² (tonja adalah suatu cara mengungkap pikiran secara simbolis melalui pemberian suatu barang), namun tidak semua orang mengerti makna simbol tersebut.

isi yang termuat dalam tonja selalu dijelaskan melalui uppasa. Misalnya bila seorang pemudi menolak cinta seorang pemuda , maka pemudi itu mengirim rokok yang terbuat dari daun enau. Setelah kiriman tersebut sampai kealamat, ternyata sipemuda tidak mengerti maknanya, maka dia pergi bertana kepada orang lain atau orang tua yang lebih berpengalaman. setelah melihat tonja tersebut, orang yang ditanya itu menjelaskannya sebagai berikut :

Issopan lembei bulung
Sabagod anak-anak
Asok botou maruhur
Marimbang ahu dakdanak.

Isinya : setiap orang harus hati-hati berhadapan dengan anak-anak sebab pikiran mereka gampang berunah.

Sipemuda dapat membalasnya dengan mengirim haporas ( Sejenis ikan kecil dari sungai atau sawah ) dengan maksud :

Haporas ni sin Lokkung
Etek-etek marpira
Anggo jolma harosuh
Etek pe na paima

Isinya : bagi orang yang saling jatuh cinta, umur tidak menjadi penghalang. umur yang masih muda bisa di tunggu.

jadi barang kiriman tersebut merupakan pengganti surat seperti sebagaimana lazimnya masakini. Maka mau tidak mau seorang pemuda atau pemudi pada masa itu harus mempelajari uppasa². (ads: adatbatak.com) dengan demikian, uppasa boleh dikatakan sebagai ilmu yang harus dipelajari. bahkan pada zaman dahulu telah dibuat semacam kriteria supaya seseorang dapat disebut dewasa, misalnya, harus mampu membaca surat sampuluh siah (Tulisan atau huruf simalungun ), menguasai ilmu mendatangkan dan menolak hujan, mahir maruppasa dan sebagainnya.

Uppasa juga sangat berperan pada saat martondur atau cari jodoh bagi muda-mudi. bila seorang pemuda menaruh hati kepada seorang pemudi, langkah pertama yang harus di buatnya ialah mengunjungi sipemudi kerumahnya, tetapi dia tidak boleh langsung menemui sipemudi tersebut. menurut adat, sipemuda harus terlebih dahulu bertemu dengan orang tua sipemudi itu, atau melalui perantara jika rumah itu rumah bolon.
pada saat pertemuan itu mereka berkomunikasi melalui uppasa. Jika ternyata orang tua sipemudi itu atau perantara itu setuju, berarti ada izin untuk bertemu. Pertemuan-pertemuan selanjutnya biasanya berlangsung di pasar (tiga), diladang pada saat gotong royong (marharoan), pad saat sipemudi itu sedang bertenun(martonun), ditengah perjalanan menuju tempat mandi (partapianan), saat pesta rondang binatang (syukuran atas tanaman yang sudah mulai menampakkan hasilnya), pada saat si pemudi itu menumbuk padi di losung ( tempat untuk menumbuk padi, dahulu setiap kampung mempunyai losung panjang yang terdiri dari beberapa lobang. disitulah tempat gadis² dikampung menumbuk padi ). (ads: adatbatak.com) Semua pembicaraan dalam pertemuan ini selalu melalui uppasa.

Dahulu di simalungun ada permainan semacam berbalas pantun. artinya uppasa dibalas uppasa. permainan ini diberi nama askei.Dalam acara ini seseorang, khususnya muda-mudi menunjukkan kemarhirannya maruppasa. karena itu mau tidak mau seorang pemuda atau pemudi harus mahir maruppasa. bukti bahwa permainan ini pernah ada di simalungun dapat kita lihat di uppas di bawah ini :

Marumbak ma Tanggiang
Rotap ma tali passa
Ise ma lo handian
imbangku maruppas

mardosong ma saringgon
Saksak bunga ni lada
Apuran do hupindo
mittor roh hata uppasa

bulung-bulung na maratah
marah bulung-bulung
anggo talu ahu marhata
sirsir ma demban ginulung.

Ketiga uppasa ini merupakan pengantar sebelum di langsungkan permainan askei tersebut. uppasa pertama berisi tentang seseorang yang mencari teman untuk berbalas uppas, sedangkan yang kedua merupakan jawaban dari pihak edua yang dengan rendah hati menerima tawaran tersebut, (ads: adatbatak.com) dan uppasa yang ketiga merupakan konekwensi atau semacam perjanjian bahwa pihak yang kalah harus membayar sesuatu atas kekalahannya.

Uppasa juga sering dinyanyikan menjadi teks lagu. baik dalam doding maupun ilah. bila suku kata kurang, maka biasanya ditambahkan kata :do, le,ale botou, datene, dan sebagainya.

uppasa juga dipergukan dalam bidang adat atau upacara-upacara resmi kerajaan(kenegaraan). jadi , melihat fungsi uppasa tersebut dapat disimpulkan bah uppasa sangat berperan penting di simalungun dan tidak bisa di lepaskan dari aspek-aspek kehidupan. Memang akhir-akhir ini peranan uppasa kurang tampak dalam masyarakat, tetapi dalam upacara resmi atau acara adat masih tetap mendapat tempat yang penting.
Peta dan Wilayah Geografis Simalungun
Peta lokasi Kabupaten Simalungun
Koordinat : 02°36' - 03°18' LU dan 98°32' - 99°35'BT
  

Geografi

Kabupaten ini memiliki 30 kecamatan dengan luas 438.660 ha atau 6,12 % dari luas wilayah Provinsi Sumatera Utara. Kecamatan yang paling luas adalah Kecamatan Tanah Jawa dengan luas 49.175 ha, sedangkan yang paling kecil luasnya adalah Kecamatan Dolok Pardamean dengan luas 9.045 ha. Keseluruhan kecamatan terdiri dari 306 desa dan 17 kelurahan. Di Kabupaten ini juga terdapat sebuah universitas, yaitu Universitas Simalungun, tepatnya di Jalan Sisingamangaraja

Batas wilayah

Utara Kabupaten Serdang Bedagai
Selatan Kabupaten Toba Samosir
Barat Kabupaten Karo
Timur Kabupaten Asahan

Potensi Ekonomi

Potensi ekonomi kabupaten Simalungun sebagian besar terletak pada produksi pertaniannya. Produksi lainnya termasuk tanaman pangan, perkebunan, pertanian lainnya, industri pengolahan, serta jasa.

Produksi Padi di Kabupaten Simalungun merupakan produksi terbesar kedua di Sumatera Utara pada tahun 2003 sesudah Kabupaten Deli Serdang.[2]

Produksi Kelapa sawit dari perkebunan yang ada di kabupaten ini menjadi komoditas utama, kedua terbesar di Sumatera Utara setelah Kabupaten Labuhanbatu (2001)[2].

Selain memproduksi Kelapa Sawit, perkebunan rakyat di Simalungun juga menghasilkan Karet dan Cokelat, selain Teh (Kecamatan Raya dan Sidamanik) yang jumlah produksinya semakin menurun. Penjualan hasil tani Karet dibantu oleh kehadiran PT Good Year Sumatra Plantations (didirikan 1970) yang biarpun memiliki perkebunan sendiri tetapi tetap menampung hasil perkebunan rakyat dan mengolahnya menjadi bahan setengah jadi sebelum menjualnya ke luar daerah.

Kecamatan

Bandar • Bandar Huluan • Bandar Masilam • Bosar Maligas • Dolok Batunanggar • Dolok Panribuan • Dolok Pardamean • Dolok Silau • Girsang Sipangan Bolon • Gunung Malela • Gunung Maligas • Haranggaol Horisan • Hatonduhan • Hutabayu Raja • Jawa Maraja Bah Jambi • Jorlang Hataran • Pane • Panombeian Pane • Pematang Bandar • Pematang Sidamanik • Purba • Raya • Raya Kahean • Siantar • Sidamanik • Silau Kahean • Silimakuta • Tanah Jawa • Tapian Dolok • Ujung Padang 
Kalender Simalungun
Almanak merupakan suatu publikasi tahunan yang mengandung informasi tabular pada suatu atau beberapa topik yang disusun sesuai dengan kala tertentu. Data astronomi dan berbagai jenis statistik juga ditemukan pada almanak, seperti waktu terbit dan tenggelamnya matahari dan bulan, gerhana, waktu pasang tinggi, perayaan keagamaan, garis waktu, dan sebagainya. Dengan kata lain kita biasanya menyebut dengan kalender.
Pada zaman Tiongkok kuno, penerbitan susunan almanak adalah salah satu lambang kekuasaan kaisar, maka pergantian dinasti kadang-kadang juga mengganti nama tahun, mengganti almanak. Sejak dinasti Qin (221–207 SM) dan dinasti Han (206 SM–220 M), kira-kira sudah lebih dari 100 macam almanak.

Kaisar Romawi pada tahun 47 SM menetapkan kalender dengan ketentuan bahwa satu tahun berumur 365 hari dengan kelebihan 6 jam setiap tahun, setiap tahun yang keempat atau angkanya habis dibagi 4 maka umurnya menjadi 366 hari disebut tahun kabisat yaitu tahun panjang, sedangkan tahun biasa berumur 365 hari. Cara menetapkannya ialah apabila tahun tersebut habis dibagi 4 berarti tahun kabisat. Misalnya tahun 1995 : 4 = 498,7 bukan tahun kabisat sedangkan tahun 1996 : 4 = 499 adalah tahun kabisat.

Perkembangan selanjutnya pada abad ke-16 terjadi pergeseran dari biasanya yaitu musim semi yang biasanya jatuh pada tanggal 21 Maret telah maju jauh, maka dilakukan suatu koreksi. Apabila sebelum perhitungan satu tahun adalah 365,25 hari maka sejak saat itu satu tahun menjadi 365,2425 hari. Itu berdasar pada perhitungan bahwa revolusi bumi bukan 365 hari lebih 6 jam tetapi tepatnya 365 hari 5 jam 56 menit atau 365 hari lebih 6 jam kurang 4 menit.

Awal tahun Masehi merujuk kepada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Isa Al-Masih karena itu kalender ini dinamakan Masihiyah atau Yesus dari Nazaret. Kebalikannya, istilah Sebelum Masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut. Kata Masehi (disingkat M) dan Sebelum Masehi (disingkat SM) biasanya merujuk kepada tarikh tahun menurut Kalender Gregorian. Kata ini berasal dari Bahasa Arab. Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun

Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat selama abad ke-8.
Meskipun tahun 1 dianggap sebagai tahun kelahiran Yesus, namun bukti-bukti historis terlalu sedikit untuk mendukung hal tersebut. Para ahli menanggali kelahiran Yesus secara bermacam-macam, dari 18 SM hingga 7 SM. Sejarawan tidak mengenal tahun 0 ─ 1 M adalah tahun pertama sistem Masehi dan tepat setahun sebelumnya adalah tahun 1 SM. Dalam perhitungan sains, khususnya dalam penanggalan tahun astronomis, hal ini menimbulkan masalah karena tahun Sebelum Masehi dihitung dengan menggunakan angka 0, maka dari itu terdapat selisih 1 tahun di antara kedua sistem.

Di Indonesia tahun Masehi digunakan secara resmi sebagai Kalender rujukan. Selain itu, masyarakat juga mengenal tahun Hijriyah/tahun Jawa dan tahun Imlek/tahun Tionghoa. Walau leluhur bangsa ini juga banyak mengenal sistem almanak sebagai kekayaan lokal yang harus dilestarikan.



Almanak Simalungun yang terbuat dari Tulang. Ada juga yang ditulis diatas kulit hewan




Tabung bambu diperuntukkan ebagai Almanak Simalungun. Bagian bawah tabung ditutup. Tabung dibagi menjadi dua bagian yang sama: satu berisi almanac berbentuk kisi-kisi, dan yang satunya berisi kolom-kolom yang disusun secara vertikal berupa ‘uhir & rajah’ didistribusikan bersama tiga baris horizontal. 

Tiga tabung bambu bertuliskan Almanak (porhalaan). Tabung yang melekat pada benang dan mungkin dimaksudkan untuk digantung, menunjukkan potensi mereka berfungsi sebagai jimat rumah tangga (pagar). Ditengah tabung panjang dibagi menjadi dua panel: berisi setengah depan berbentuk kisi-kisi yang menggambarkan hari-hari dalam setahun dan bagian kedua uhir & rajah yang berisi kolom-kolom vertikal. Yang tersisa dua tabung berisi teks-teks tertulis. Tabung yang lebih pendek berisi uhir gorga yang dibatasi menjadi dua bagian oleh sebuah berkas pita bermotif S yang berkait, terdiri dari sederetan gambar 2 pola.


Almanak yang berbentuk beberapa peletah yang dibuat dari bambu. Almanak ini lebih berfungi untuk ilmu astrologi, fengshui dan hongshui ala Simalungun

KALENDER SIMALUNGUN

Tidak diketahu pasti, sejak kapan Kalender Simalungun (Parhalaan) mulai dipakai. Bahkan angka tahun juga tidak tertera. Parhalaan justru lebih popular dewasa itu untuk dunia spiritual daripada penanggalan data.
Dalam Pustaha yang ditemukan di Talang Tua, yang ditulis pada tanggal Mudaha Ni Mangadop (11) bulan Sipaha Opat (4) tahun 686M (608 Saka), ditulis dalam bahasa lingua franca Sriwijaya dan Nagur, begini bunyinya:

“Syaka warsyatita 608 ding pratipada tahun saka leat 608 dina parmula syukpalaksya wulon waisyaka tatkalanya mudaha ni poltak bulan sipaha opat hatihani yang mangmang sumpah ini nipahat di welanya yang wala shariwidjaya kaliwat hatihani bola sariwidjaya leat manapik yang bhuni Jawa tidak bakti mengalah bumi Jawa naso tunduk ka Syariwidjaya hu ariwidjaya”.
Jika kita artikan dalam gaya tutur bahasa Simalungun, begini jadinya: “Sanggah bani mudaha ni Popoltak (mangadop) tahun saka 608 na salpu bulan sipaha ompat, panorang aima bulawan on iuhirhon sangat dunghonsa (dobkonsi) ialah bala ni ariwidjaya tanoh Jawa nao tunduk hu bani sariwidjaya”.
Disebutkan ‘mudaha ni Poltak Bulan Sipaha Opat’, menandakan kalau Kalender simalungun (Parhalaan) sudah dipakai dikala itu.

Mirip dengan tahun hijriyah, Almanak Simalungun (Parhalaan), penentuan dimulainya sebuah hari (Ari) pada Almanak Simalungun berbeda dengan Almanak Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Simalungun, sebuah ari dimulai ketika terbenamnya matahari.
Parhalaan Simalungun dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar, memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Parhalaan Simalungun lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Parhalaan Simalungun bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari. Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di jarak terdekat bulan dengan bumi, dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari. dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah, bisa 29 atau 30 hari, sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut.

Penentuan awal bulan Parhalaan Simalungun ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali setelah bulan baru. Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi bulan sabit terkecil yang dapat dilihat oleh mata manusia beberapa saat setelah matahari terbenam, berada di ufuk barat. Jika hal ini tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari.
Semuanya tergantung pada penampakan bulan sabit terkecil saat matahari terbenam.

Pada bulan Pebruari 2009 lalu, menurut perhitungan saya melalui Parhalaan Simalungun, tanggal 26 Pebruari 2009 bertepatan dengan hari Dittia bulan Sipaha Sada, sebagai tahun baru Simalungun.
GORAN NI ARIJika dalam Kalender Masehi dan Kalender Hijriyah ditemukan sebanyak tujuh nama hari, dari minggu hingga sabtu, maka berbeda dengan Kalender Simalungun. Simalungun mengenal 30 (tiga puluh) nama hari.

Berikut ini 30 nama hari dalam sebulan menurut Parhalaan Simalungun, yaitu:

1. Adintiya
2. Suma
3. Anggara
4. Mudaha
5. Boraspati
6. Sihora
7. Samisara
8. Tuan Nayok
9. Suma ni Siah (Suma ni Mangadop)
10. Anggara Sampuluh
11. Mudaha ni Mangadop (Mudaha ni Poltak)
12. Boraspati ni Tangkop
13. Sihora Purasa
14. Samisara Purasa
15. Tula
16. Suma ni Holom
17. Anggara ni Holom
18. Mudaha ni Holom
19. Boraspati ni Holom
20. Sihora Dua Puluh
21. Samisara Bona Turun
22. Tuan Nangga
23. Suma ni Matei
24. Anggara ni Matei
25. Mudaha ni Gok
26. Boraspati ni Gok
27. Sihora Duduk
28. Samisara Marhulung (Samiara Bulan Matei)
29. Hurung
30. Likkar

Jika bulan menunjukkan jumlah 29 (dua puluh sembilan), maka hari Hurung tidak diikutkan, tetapi dari hari Samisara Marhulung langsung ke hari Likkar.

Ada beberapa kosakata Sansekerta yang mungkin sama atau teradaptasi dalam Goran-goran ni Ari ini. Sebutlah Adintiya, Aditya adalah kelompok Dewa matahari dalam Hinduime, putera dari Aditi dan Kashyapa. Di Jawa, hari Anggara diselarakan dengan hari selasa yang juga merupakan hari ketiga.
GORAN NI BULAN PARHALAAN

Terdapat 12 (dua belas) bulan dalam Kalender Simalungun, yaitu:
1. Sipaha Sada
2. Sipaha Dua
3. Sipaha Tolu
4. Sipaha Opat
5. Sipaha Lima
6. Sipaha Onom
7. Sipaha Pitu
8. Sipaha Ualuh
9. Sipaha Siah
10. Sipaha Sampuluh
11. Luyu
12. Luyu Tangtang


Sumber
http://halibitonganomtatok.wordpress.com/ 
Museum Simalungun Dibuang Sayang 
Sepi pengunjung - Museum Simalungun di Pematangsiantar, Sumatera Utara, yang menyimpan koleksi benda-benda bersejarah dan budaya berusia ratusan tahun kurang diminati wisatawan Nusantara dan mancanegara.

Pematangsiantar - Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut), termasuk daerah yang paling kaya objek wisata. Objek wisatanya tersohor hingga ke mancanegara terutama Parapat di pesisir Danau Toba. Tempat ini paling banyak menyedot wisatawan mancanegara.

Selain Parapat, ada wisata Gunung Dolok Simarjarunjung, wisata sejarah dan budaya Rumah Bolon Purba, Museum Simalungun dan Pantai Haranggaol. Di tengah popularitas Parapat di tingkat internasional, objek wisata lain justru terpuruk.

Salah satunya, museum Simalungun yang terdapat di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 10 Kota Pematang Siantar. Sampai kini museum tersebut relatif masuk hitungan dalam peta wisata. Padahal museum itu memiliki koleksi kebudayaan material peninggalan sejarah dan budaya yang berusia ratusan tahun. Peninggalan arkeologi maupun etnografi yang berumur ratusan tahun itu tak terawat. Kini berdebu dan perlahan hancur dimakan rayap.

Peninggalan sejarah yang terkenal dan tersimpan dalam museum itu antara lain samborik (alat rumah tanggayang terbuat dari kuningan untuk tempat sirih persembahan dan makanan adat), losung (alat menumbuk padi), baluhat (tempat air dari bambu), sapah (piring kayu) dan patiman (mangkok kayu tempat lauk-pauk), parlobong (kayu untuk membuat lobang untuk menanam padi), hudali (cangkul tempo dulu), assuan (cangkul dari batang enau), bubu (alat menangkap ikan dari ijuk) dan hirang (tempat hasil panen ikan) dan lain sebagainya.


Kurang Terawat
Saat ini, peninggalan sejarah itu kurang terawat di dalam museum karena biaya pemeliharaannya cukup mahal, khususnya biaya pembersihan. Sehingga peninggalan sejarah itu bagaikan rongsokan dan terancam dimakan rayap.

Kepala Museum Simalungun S Andreas Lingga kepada Pembaruan baru-baru ini di Kantor Museum Simalungun, Pematangsiantar ini mengungkapkan, Museum Simalungun saat ini seperti objek wisata yang mati suri. Wisatawan lokal dan mancanegara semakin jarang mengunjunginya. Kadang dalam satu bulan hanya beberapa orang yang datang berkunjung ke museum tersebut.

Berdasarkan pantauan Pembaruan ketika berkunjung beberapa kali ke Museum Simalungun, suasana sepi pengunjung. Sepertinya tak memiliki daya tarik Apakah mungkin dikarenakan lokasi museum yang tersembunyi di samping kiri gedung Gereja Kristen Protesan Simalungun (GKPS) Jalan Sudirman Pematangsiantar.

Selain sepi pengunjung, menurut Andreas Lingga, Museum Simalungun yang berdiri sejak 14 Januari 1937 juga tertinggal dalam pembangunan pariwisata Kabupaten Simalungun dan Sumatra Utara karena tidak ada program-program pengembangan. Kondisi bangunan museum kurang tertata apik, sehingga kurang mampu memikat hati pengunjung. Selain itu kegiatan promosinya sangat minim. Bahkan tidak ada.

Hal ini dikarenakan kurangnya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Simalungun, Pemerintah Kota Pematangsiantar dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Utara. Bahkan kalangan intelektual dari Universitas Simalungun dan Universitas Sumatra Utara (USU) jarang melakukan studi mengenai peninggalan sejarah Simalungun yang ada di Museum Simalungun.

"Sebenarnya, saya sudah membuat program-program pengembangan Museum Simalungun agar menjadi objek wisata sejarah yang ramai dikunjungi turis. Program itu sudah disiapkan beberapa tahun lalu setelah saya beberapa kali mengadakan studi banding ke museum tingkat internasional seperti di Inggris, Belanda dan Singapura," jelas Lingga.

Variasi Museum

Berdasarkan studi tersebut, lanjutnya, museum harus dikelola secara profesional dengan cara memilah-milah objek kunjungan berdasarkan usia pengunjung. Misalkan museum untuk anak-anak yang dilengkapi permainan.

Kemudian ada museum untuk kalangan remaja yang dilengkapi alat-alat pembelajaran, museum untuk kalangan ilmuwan yang dilengkapi dengan kelengkapan bahan penelitian dan museum untuk umum yang menyajikan berbagai objek dan informasi tentang peninggalan sejarah dan budaya Simalungun.

"Program tersebut sudah kita matangkan sebenarnya. Tetapi karena dukungan dana belum ada, belum ada program yang terwujud. Kita sebenarnya sudah mulai membangun ruang pertemuan dan pentas seni di lokasi museum sejak tahun 2003. Tetapi bangunan itu saat ini terbengkalau karena uangnya 'dimakan' oleh oknum pelaksana proyek," ujarnya.

Akibatnya menurut S Andreas Lingga, kekayaan peninggalan sejarah dan seni budaya Simalungun kini semakin kurang dikenal generasi muda karena mereka jarang berkunjung ke museum daerahnya. Kemudian informasi mengenai kekayaan peninggalan sejarah dan seni budaya itu juga semakin langka di masyarakat.

Dia mengatakan, di era otonomi daerah ini, peluang untuk mengangkat kembali peninggalan sejarah dan seni-budaya Simalungun cukup luas. Namun untuk mencapai cita-cita itu, pemerintah daerah dan kalangan intelektual Simalungun harus memiliki komitmen yang tinggi memajukan objek wisata sejarah dan budaya, seperti Museum Simalungun di Pematangsiantar dan Rumah Bolon Simalungun di Pematang Purba.

Kalau objek wisata sejarah dan budaya di Simalungun mampu dikelola secara profesional dan mampu menarik minat wisatawan lokal saja, warisan sejarah dan budaya Simalungun akan bisa dipertahankan di masyarakat Simalungun.

"Nilai-nilai budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya juga akan lenyap karena tak pernah dikenal dan dipedulikan lagi oleh generasi muda Simalungun. Karena itu, kepada masyarakat Simalungun di mana pun berada, jangan sampai kita lupakan menjaga kelestarian sejarah leluhur,"RADESMAN SARAGIH . 
Photo Radja Tanah Djawa



Oppung Sang Madjadi Radja Tanah Djawa ( dari th...s/d 1941 ) beserta putra2nya, berdiri paling kiri Radja Kaliamsjah Sinaga, berdiri tengah Omsjah Sinaga, berdiri paling kanan Kalam Sinaga
Catatan : Radja Kaliamsjah Sinaga dinobatkan menjadi Raja Keradjaan Tanah Djawa pada Juli 1941, Keradjaan Tanah Djawa berada di Kab.Simalungun Prop.Sumatera Utara.




Duduk di tengah Radja Kaliamsjah Sinaga /Wkl Presiden Sumatera Timur mewakili Negara Bagian Sumatera Timur dalam Muktamar Negara2 Bagian SeSumatera di Medan Maret 1949. Muktamar diselenggarakan dalam rangka menghadapi Konferensi Medja Bundar ( KMB ) di Den Haag Desembar 1949




Berdiri paling kiri Radja Kaliamsjah Sinaga/Wkl Presiden Sumatera Timur, duduk paling kiri Dr M.Hatta (Bung Hatta) /Wkl Presiden RI, duduk ditengah Dr.Mansoer/Presiden Sumatera Timur, berdiri paling kanan Mr.Ali Sastroamidjojo, duduk paling kanan Mr.M.Roem
Foto bersama sebelum menerima penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda ke negara RIS saat Konferensi Meja Bundar ( KMB ) tanggal 30 Desember 1949. Pada Tahun 1950 Negara Sumatera Timur yg pertama kali keluar dari RIs dan kembali ke NKRI yg kemudian diikuti oleh negara2 Bagian lainnya